سورةالنساء {٤} 4. AN-NISAA´
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {١} 1. Wahai umat manusia, takutlah kalian kepada Allah; tunai-kanlah perintah-perintah-Nya dan jauhilah larangan-larangan-Nya! Dialah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, yaitu Adam kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, yaitu Hawa, dan dari keduanya Allah menyebarkan (mengembangbiakkan) ke seluruh penjuru bumi sekian banyak jenis laki-laki dan wanita. Merasalah selalu diawasi oleh Allah, yang dengan-Nya kalian saling meminta satu sama lain. Waspadalah, jangan sampai memutus jalinan kekerabatan. Sungguh Allah Maha Mengawasi seluruh keadaan kalian.
وَآتُوا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَىٰ أَمْوَالِكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا {٢} 2. Berikanlah kepada anak-anak (yatim) yang ditinggal mati oleh ayah mereka sebelum balig itu harta mereka jika mereka sudah sampai pada usia balig dan kalian pandang mereka sudah memiliki kemampuan untuk menjaga harta mereka, jika kalian adalah orang-orang yang diberi amanat untuk menjaga harta mereka. Janganlah kalian ambil (pilih) yang baik saja dari harta mereka untuk kalian ganti dengan yang buruk dari harta kalian. Janganlah kalian campur harta kalian dengan harta mereka agar dengan itu kalian bisa berkilah dalam memakan harta mereka. Sungguh orang yang berani melakukan hal itu berarti telah melakukan perbuatan dosa yang besar.
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا {٣} 3. Jika kalian khawatir tidak dapat berbuat adil berkenaan dengan anak-anak perempuan yatim yang ada dalam pengasuhan kalian (jika kalian hendak menikahi mereka) dengan tidak bisa memberikan mahar mereka sebagaimana yang diberikan kepada selain mereka maka tinggalkanlah (jangan dinikahi). Dan nikahilah wanita yang baik bagi kalian selain mereka, dua, atau tiga, atau empat. Jika kalian khawatir tidak mampu berbuat adil di antara mereka maka cukuplah dengan satu istri saja, atau cukup dengan budak perempuan yang kalian miliki. Aturan yang telah Aku syariatkan kepada kalian berkenaan dengan anak-anak perempuan yatim serta aturan menikah dengan seorang hingga empat orang wanita, atau mencukupkan diri dengan menikahi seorang wanita saja, atau cukup dengan budak perempuan yang dimiliki, adalah lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya dan melampaui batas.
وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا {٤} 4. Berikanlah mahar kepada wanita-wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian wajib yang diberikan dengan penuh kerelaan dari kalian. Namun jika kemudian mereka dengan penuh kerelaan hati pula memberikan sebagian mahar tersebut kepada kalian, silakan kalian ambil dan pergunakan. Yang demikian itu merupakan sesuatu yang halal lagi baik.
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا {٥} 5. Wahai para wali, janganlah kalian serahkan harta tersebut kepada orang-orang yang belum bisa mengaturnya dari kalangan lelaki, wanita dan anak-anak, yaitu harta mereka yang ada di tangan (pengurusan) kalian, sehingga mereka akan meletakkannya tidak sebagaimana mestinya. Harta seperti itu adalah pilar kehidupan manusia. Nafkahkanlah atas mereka sebagian darinya dan berikanlah pakaian kepada mereka. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang makruf, yaitu ucapan dan akhlak yang baik.
وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا ۚ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا {٦} 6. Ujilah anak-anak yatinn yang berada di bawah pengurusan kalian untuk mengetahui kemampuan mereka di dalam mengurus harta mereka sendiri secara baik. Sehingga ketika mereka sudah sampai pada usia balig, dan kalian ketahui bahwa mereka memiliki keshalihan dalam hal din mereka serta memiliki kemampuan untuk menjaga harta mereka maka serahkan harta itu ke-pada mereka. Janganlah melanggar batas terhadapnya dengan membelanjakannya tidak pada tempatnya secara berlebihan dan bersegera memakannya sebelum mereka mengambilnya dari kalian. Jika di antara kalian (yang mengelola harta anak yatim) itu memiliki harta sendiri (berkecukupan) maka hendaklah ia menahan diri dengan cukup mengunakan hartanya sendiri dan tidak mengambil sedikit pun dari harta anak yatim tersebut. Adapun jika ia adalah seorang yang miskin (membutuhkan) maka silakan saja mengambil sebagian dari harta tersebut sesuai dengan kadar kebutuhannya jika memang hal itu mendesak (darurat). Jika kalian mengetahui bahwa anak-anak yatim itu sudah mampu menjaga harta mereka sendiri setelah balig, lalu kalian serahkan harta itu kepada mereka maka hendaklah kalian persaksikan penyerahan harta tersebut di hadapan para saksi di hadapan mereka. Ini adalah untuk menjamin sampainya hak itu kepada mereka secara penuh sehingga mereka tidak akan mengingkarinya. Cukuplah bagi kalian bahwa Allah menjadi saksi atas perbuatan kalian dan Dia akan menghisab segala hal yang telah kalian kerjakan.
لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ ۚ نَصِيبًا مَفْرُوضًا {٧} 7. Bagi kaum laki-laki, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa, ada bagian yang telah disyariatkan oleh Allah berkenaan dengan harta (warisan) yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan kerabat, entah sedikit ataupun banyak, menurut jatah yang telah ditetapkan secara jelas. Allah yang menetapkan hal itu untuk kaum laki-laki dan wanita.
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا {٨} 8. Jika saat pembagian warisan itu hadir karib kerabat si mayat yang tidak ada hak bagi mereka dari harta yang ditinggalkan itu, atau hadir orang yang ditinggal mati oleh ayah mereka ketika mereka masih kecil (yatim), atau hadir orang yang tidak memiliki harta; maka berikanlah kepada mereka sebagian dari harta tersebut secara sukarela sebelum pembagian harta warisan itu kepada mereka yang berhak, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang baik (tidak kasar).
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا {٩} 9. Hendaklah khawatir orang-orang yang jika mereka itu mati dan meninggalkan di belakang mereka anak-anak kecil yang lemah,yang mereka itu khawatir terhadap kelaliman dan ketersia-siaan mereka. Hendaklah mereka selalu merasa diawasi oleh Allah berkenaan dengan siapa saja yang berada di bawah kekuasaan mereka, yang terdiri dari anak-anak yatim maupun selain mereka. Yang demikian itu diwujudkan dengan menjaga harta mereka, mendidik dengan baik dan menghindarkan gangguan dari mereka. Dan hendaklah mengucapkan kepada mereka kata-kata yang sesuai dengan keadilan dan kepatutan.
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا {١٠} 10. Orang-orang yang melanggar harta anak-anak yatim dengan cara mengambil tanpa haknya, mereka itu memakan api yang menyala di dalam perut mereka pada Hari Kiamat. Mereka akan masuk ke dalam neraka dengan merasakan panasnya.
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا {١١} 11. Allah mewasiatkan dan memerintahkan kalian berke-naan dengan urusan anak-anak kalian: Jika salah seorang dari kalian meninggal dunia dalam keadaan meninggal-kan anak-anak, laki-laki dan perempuan maka pembagian warisan bagi mereka adalah bagi laki-laki dua bagian orang perempuan, jika tidak ada ahli waris selain mereka. Jika orang yang meninggal itu hanya meninggalkan anak-anak perempuan saja maka bagi dua orang anak perempuan atau lebih adalah dua pertiga dari harta yang ditinggalkannya. Jika hanya seorang wanita saja yang ditinggalkan maka bagiannya adalah separuh. Sementara bagi kedua orang tua si mayat, masing-masing mendapatkan seperenam jika ia memiliki seorang anak, baik laki-laki atau pun perempuan; satu atau lebih. Jika ia tidak memiliki anak, sedangkan yang menjadi ahli warisnya adalah kedua orang tuanya maka untuk sang ibu sepertiga, sedangkan sisanya untuk sang ayah. Jika si mayat itu memiliki beberapa saudara, dua atau lebih, baik laki-laki maupun perempuan maka sang ibu mendapatkan seperenam, sedangkan sisanya bagi sang ayah. Adapun saudara-saudaranya tidak mendapatkan. Pembagian warisan ini baru boleh dilakukan setelah ditunaikannya wasiat si mayat dengan batas maksimal sepertiga, atau setelah digunakan untuk melunasi utang-utangnya. Para orang tua kalian dan anak-anak kalian yang ditetapkan adanya jatah warisan bagi mereka itu, kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat manfaatnya bagi kalian di dunia dan akhirat kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian melebihkan salah seorang dari mereka atas yang lain. Apa yang Aku wasiatkan ini telah menjadi ketetapan dari Allah atas kalian. Allah Maha Mengetahui makhluk-Nya serta Mahabijaksana berkenaan dengan apa yang disyariatkan bagi mereka.
وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۚ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ ۚ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَىٰ بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ ۚ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ {١٢} 12. Bagi kalian wahai kaum lelaki (suami), separuh dari apa yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian setelah mereka meninggal dunia, jika mereka tidak memiliki anak, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka memiliki anak maka bagian kalian adalah seperempat dari harta yang mereka tinggalkan. Kalian dapat mewarisinya setelah pe-laksanaan wasiat mereka yang dibolehkan, atau setelah pelunasan utang-utang mereka kepada yang memberi piutang. Sedangkan bagi istri-istri kalian seperempat dari harta yang kalian tinggalkan, jika kalian tidak memiliki anak laki-laki atau anak perempuan dari mereka, atau dari selain mereka. Jika kalian memiliki anak laki-laki atau anak perempuan maka bagi mereka seperdelapan dari harta yang kalian wariskan. Seperempat atau seperdelapan di-bagikan di antara mereka (jika istri lebih dari satu). Jika istri hanya satu maka jatah tersebut milik dia sepenuhnya. Tentu saja hal itu dapat diterima setelah pelaksanaan wasiat kalian yang dibo-lehkan, atau setelah pelunasan utang kalian. Jika ada seorang lelaki atau wanita yang meninggal, sedangkan ia tidak memiliki anak atau orang tua, namun ia memiliki saudara laki-laki atau saudara perempuan dari jalur ibu maka masing-masing dari keduanya mendapatkan seperenam. Jika saudara laki-laki atau saudara perempuan dari jalur ibu itu jumlahnya lebih dari satu maka mereka bersekutu dalam bagian sepertiga; yang dibagikan secara rata di antara mereka tanpa membedakan antara laki-laki dan wanita. Apa yang difardhukan oleh Allah atas para saudara laki-laki dan para saudara perempuan seibu, dapat mereka ambil sebagai harta warisan untuk mereka setelah pelunasan utang-utang si mayat serta pelaksanaan wasi-atnya, jika memang sebelum meninggal ia pernah mewasiatkan sesuatu yang tidak merugikan para ahli waris. Dengan inilah Rabb kalian memberikan wasiat yang bermanfaat bagi kalian. Allah Maha Mengetahui apa yang memberikan kemaslahatan pada makhluk-Nya. Allah Maha Penyantun, sehingga tidak menyegerakan hukuman terhadap mereka (jika mela-kukan pelanggaran).
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ {١٣} 13. Hukum-hukum ilahi yang disyariatkan oleh Allah berkenaan dengan anak-anak yatim, kaum wanita dan pembagian warisan itu, merupakan syariat-Nya yang menunjukkan bahwa ia berasal dari sisi Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Barang siapa mematuhi Allah dan Rasul-Nya berkenaan dengan apa yang telah disyariatkan bagi para hamba-Nya berupa hukum-hukum ini maupun yang lainnya maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang memiliki banyak pepohonan dan istana. Di bawahnya mengalir berbagai sungai dengan air-airnya yang segar. Mereka kekal di dalam kenikmatan ini, tidak akan pernah keluar darinya. Pahala yang demikian itu merupakan keberuntungan yang besar.
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ {١٤} 14. Barang siapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mengingkari hukum-hukum Allah serta melanggar apa yang telah disyariatkan oleh Allah bagi para hamba-Nya dengan cara mengubahnya, atau menolak untuk mengamalkannya maka Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka. Mereka tinggal di dalamnya, sedangkan ia mendapatkan siksaan yang menghinakan dan merendahkan.
وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّىٰ يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا {١٥} 15. Dan terhadap wanita-wanita di antara kalian yang berbuat zina maka persaksikanlah wahai para wali dan hakim, atas mereka empat orang laki-laki yang adil dari kalangan kaum muslimin. Jika mereka dapat mendatangkan saksi atas wanita-wanita tersebut (sebagai bukti berbuat zina) maka tahanlah mereka di dalam rumah sampai meninggal dunia, atau Allah akan menjadikan buat mereka jalan untuk melepaskan diri dari hal tersebut.
وَاللَّذَانِ يَأْتِيَانِهَا مِنْكُمْ فَآذُوهُمَا ۖ فَإِنْ تَابَا وَأَصْلَحَا فَأَعْرِضُوا عَنْهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ تَوَّابًا رَحِيمًا {١٦} 16. Dan dua orang yang terperosok ke dalam kejinya perbuatan zina maka berikanlah hukuman yang menyakitkan kepada keduanya, berupa pukulan (dera), ditinggalkan (ditahan di dalam rumah) dan dicela. Jika keduanya bertaubat dari apa yang mereka lakukan, kemudian berubah menjadi baik yang diwujudkan dengan melakukan amalan-amalan yang baik maka maafkanlah mereka; jangan lagi menyakiti/menghukumnya. Dari ayat ini dan ayat sebelumnya, dapat dipetik kesimpulan bahwa kaum laki-laki itu jika melakukan tindak kekejian/zina maka mereka diberi hukuman yang menyakitkan, yaitu didera, sedangkan kaum wanita ditahan dan diberi hukuman yang menyakitkan. Penahanan puncaknya adalah kematian, sedangkan memberikan hukuman yang menyakitkan, pada akhirnya ada kesempatan taubat dan memperbaiki diri. Ketentuan ini berlaku di awal Islam, kemudian hukum ini dihapus dengan syariat baru yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yaitu bahwa hukum rajam berlaku atas laki-laki dan perempuan yang muhshan, yaitu laki-laki atau perempuan merdeka yang sudah balig dan berakal sehat yang sudah pernah melakukan hubungan badan melalui pernikahan yang sah. Sedangkan dera seratus kali dan pengasingan berlaku untuk selain keduanya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat atas hamba-hamba-Nya yang bertaubat serta Maha Penyayang kepada mereka.
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا {١٧} 17. Allah hanya akan menerima taubat dari orang-orang yang melakukan perbuatan kemaksiatan dan dosa karena mereka jahil (tidak tahu) akan akibatnya dan tidak tahu bahwa hal itu mengharuskan untuk mendapatkan kemurkaan dari Allah. Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, baik secara tidak sengaja maupun sengaja maka ia dapat disebut sebagai orang jahil, sekalipun ia mengetahui pengharamannya. Kemudian ia kembali kepada Rabb mereka dengan taubat dan melaksanakan ketaatan sebelum ia menyaksikan kematiannya maka Allah menerima taubat mereka. Allah Maha Mengetahui serta Mahabijaksana di dalam mengatur dan menentukan urusan makhluk-Nya.
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا {١٨} 18. Penerimaan taubat itu tidak berlaku bagi orang-orang yang terus menerus berbuat kemaksiatan dan tidak mau kembali kepada Rabb mereka hingga sakaratul maut menjemput, lalu salah seorang dari mereka berkata, "Sekarang ini saya bertaubat. "Demikian juga taubat itu juga tidak diterima dari orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan ingkar; mengingkari keesaan Allah dan risalah Rasul-Nya, Muhammad. Mereka itu adalah orang-orang yang terus-menerus berbuat kemaksiatan sampai mereka meninggal dunia. Sedangkan orang-orang ingkar, yang hingga mati masih dalam keadaan kafir maka Kami sediakan untuk mereka adzab yang menyakitkan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا {١٩} 19. Wahai orang-orang yang beriman, kalian tidak dibolehkan menjadikan istri-istri dari ayah kalian sebagai bagian dari warisan mereka, yang dapat kalian perlakukan mereka dengan menikahi mereka, atau melarang mereka untuk menikah, atau menikahkan mereka dengan lelaki lain, sedangkan mereka tidak menyukai itu semua. Kalian juga tidak dibolehkan untuk membuat istri-istri kalian susah ketika kalian tidak suka kepada mereka, dengan maksud agar mereka dapat menyerahkan kembali sebagian dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka, baik berupa mahar atau semisalnya. Kecuali jika memang mereka melakukan perbuatan keji semisal zina. Ketika itu, kalian dapat menahan mereka sehingga kalian bisa mengambil kembali apa yang telah kalian berikan kepada mereka. Hendaklah pergaulan kalian dengan istri-istri kalian itu dibangun di atas prinsip memuliakan dan mencintai serta penunaian hak-hak mereka. Jika kalian membenci mereka oleh karena suatu sebab yang bersifat keduniaan maka bersabarlah. Boleh jadi kalian membenci sesuatu namun sebenarnya di situ terdapat kebaikan yang banyak.
وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا ۚ أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا {٢٠} 20. Jika kalian ingin mengganti seorang istri dengan istri yang lain (menikahi wanita lainnya), sedangkan kalian telah memberikan kepada wanita yang hendak engkau ceraikan itu harta yang banyak sebagai mahar baginya; kalian tidak dibenarkan untuk mengambil sedikit pun darinya. Maka apakah kalian masih juga akan mengambilnya dengan jalan kebohongan dan kepalsuan yang nyata?
وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا {٢١} 21. Bagaimana bisa halal bagi kalian untuk mengambil mahar yang telah kalian berikan kepada mereka, sedangkan masing-masing dari kalian telah saling menikmati kesenangan berupa jimak? Demikian juga mereka telah mengambil perjanjian yang kuat berupa mempergauli mereka sebagai istri dengan cara yang makruf atau melepaskan (menceraikan) mereka dengan cara yang baik pula.
وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا {٢٢} 22. Janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang pernah dinikahi oleh bapak-bapak kalian, kecuali yang telah berlalu di antara kalian di zaman jahiliah. Yang demikian itu tidak ada hukumannya. Pernikahan anak terhadap mantan istri-istri ayahnya merupakan sesuatu yang buruk dan amat keji, yang sangat dibenci oleh Allah. Betapa buruk jalan yang pernah kalian lalui di masa jahiliah itu.
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا {٢٣} 23. Allah telah mengharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian sendiri, termasuk nenek-nenek dari jalur ayah maupun ibu; anak-anak perempuan kalian, termasuk anak-anak perempuan dari anak-anak laki-laki (para cucu perempuan) dan seterusnya ke bawah; saudara-saudara perempuan seayah seibu, atau seayah saja atau seibu saja; para bibi dari jalur ayah, yaitu para saudara perempuan ayah dan kakek kalian; para bibi dari jalur ibu, yaitu para saudara perempuan dari ibu dan nenek kalian; anak-anak perempuan dari saudara laki-laki dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan, termasuk juga anak-anak (perempuan) mereka; para ibu yang menyusui kalian dan para saudara perempuan sesusuan (Rasulullah telah mengharamkan / memahramkan karena susuan sebagaimana memahramkan karena nasab); para ibu dari istri-istri kalian, entah para istri itu telah kalian gauli atau pun belum; anak-anak perempuan dari istri-istri kalian yang pada umumnya tumbuh di rumah-rumah kalian dan di bawah pemeliharaan kalian, di mana mereka itu adalah para wanita yang diharamkan (untuk kalian nikahi), sekalipun tidak berada di bawah pemeliharaan kalian, namun dengan syarat bahwa kalian sudah melakukan hubungan badan dengan para ibu nnereka. Jika kalian belum melakukan hubungan badan dengan para ibu mereka, dan kalian ceraikan mereka atau mereka meninggal sebelum kalian melakukan hubungan badan dengan mereka maka tidak ada dosa atas kalian untuk menikahi anak-anak perempuan mereka. Demikian juga Allah mengharamkan atas kalian untuk menikahi para istri dari anak-anak kandung kalian dan siapa saja yang dapat disertakan dengan status mereka berupa anak-anak kalian sesusuan. Pengharaman ini terjadi dengan adanya akad nikah sang anak dengan wanita tersebut, apakah sang anak sudah melakukan hubungan badan maupun belum. Allah juga mengharamkan atas kalian menggabungkan (menyatukan) antara dua saudara perempuan senasab atau sesusuan dalam waktu yang sama; kecuali yang telah pernah berlalu di zaman jahiliah. Demikian juga tidak boleh menyatukan antara seorang wanita dengan bibinya dari jalur ayahnya atau dengan bibinya dari jalur ibunya, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun kepada orang-orang yang berdosa jika mereka bertaubat, serta Maha Penyayang kepada mereka sehingga tidak pernah membebani mereka sesuatu yang mereka tidak mampu.
وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا {٢٤} 24. Dan diharamkan pula atas kalian menikahi wanita-wanita yang sudah bersuami. Kecuali wanita-wanita yang berhasil kalian tawan di medan jihad. Mereka itu halal untuk kalian nikahi, namun setelah dapat dipastikan kebersihan rahim mereka sesudah mengalami sekali haid. Allah telah menetapkan atas kalian pengharaman menikahi mereka, namun membolehkan kepada kalian untuk menikahi selain mereka. Yaitu di antara wanita-wanita yang dihalalkan oleh Allah untuk kalian nikahi dengan modal harta yang kalian miliki dalam rangka menjaga kesucian diri, bukannya untuk melakukan tindakan yang haram (zina). Maka berikanlah mahar terhadap wanita yang kalian nikmati melalui proses pernikahan yang sah, yang telah diwajibkan oleh Allah terhadap kalian untuk kalian berikan kepada mereka. Namun tidak ada dosa atas kalian berkenaan dengan sesuatu yang kalian berdua telah saling merelakannya, apakah berupa penambahan atau pengurangan nilai mahar, setelah terjadi penentuan nilai mahar sebelumnya. Allah Maha Mengetahui segala urusan hamba-Nya serta Mahabijaksana berkenaan dengan hukum-hukum dan pengaturan-Nya.
وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِكُمْ ۚ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ ۚ فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ ۚ وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٢٥} 25. Barang siapa yang tidak memiliki kemampuan untuk memberikan mahar kepada wanita-wanita merdeka yang beriman maka ia boleh menikahi selain mereka di antara para perempuan beriman dari kalian yang berstatus sebagai budak. Allah Maha Mengetahui hakikat dari keimanan kalian. Sebagian dari kalian adalah berasal dari sebagian yang lain. Maka nikahilah mereka itu dengan izin dari pemiliknya, beri-kanlah mahar kepada mereka berdasarkan kerelaan masing-masing dari kalian dan berdasarkan kebaikan hati dari kalian. Yaitu wanita-wanita yang menjaga kesucian diri mereka dari perbuatan yang haram, bukan wanita-wanita yang terang-terangan berbuat zina, dan juga bukan para wanita yang mengambil lelaki sebagai piaraan mereka. Jika para wanita tersebut telah menikah, lalu mereka melakukan perbuatan keji berupa zina maka hukuman had atas mereka adalah separuh dari hukuman yang dijatuhkan atas wanita-wanita merdeka. Kebolehan menikahi budak-budak wanita tersebut sebenarnya adalah bagi orang-orang yang mengkhawatirkan dirinya akan terjatuh ke jurang perzinaan serta karena begitu berat baginya untuk menahan jimak. Namun bagaimanapun, bersabar atau menahan diri dari menikahi budak-budak wanita dengan tetap menjaga kesucian diri adalah lebih utama dan lebih baik. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada kalian karena mengizinkan untuk menikahi mereka ketika kalian tidak mampu menikahi wanita-wanita merdeka.
يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ {٢٦} 26. Melalui pensyariatan ini, Allah hendak menjelaskan kepada kalian rambu-rambu din-Nya yang lurus dan syariat-Nya yang penuh hikmah, serta menunjukkan kepada kalian jalan yang ditempuh oleh para nabi dan orang-orang shalih sebelum kalian, berkenaan dengan masalah halal dan haram. Dan Allah juga hendak menerima taubat kalian dengan mengembalikan kalian kepada ketaatan. Allah Maha Mengetahui apa yang bisa memberikan maslahat terhadap urusan para hamba-Nya serta Mahabijaksana berkenaan dengan syariat-Nya yang diberlakukan atas kalian.
وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا {٢٧} 27. Allah hendak menerima taubat kalian serta memaafkan kesalahan-kesalahan kalian. Sedangkan orang-orang yang menuruti hawa nafsu menginginkan agar kalian menyimpang dari din dengan penyimpangan yang sejauh-jauhnya.
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا {٢٨} 28. Allah hendak memberikan keringanan kepada kalian berkenaan dengan apa yang telah disyariatkan kepada kalian serta tidak ingin menyusahkan kalian. Sebab kalian diciptakan dalam keadaan lemah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا {٢٩} 29. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, tidaklah halal bagi kalian jika sebagian dari kalian memakan harta sebagian yang lain secara batil, tanpa dasar yang benar. Melainkan semuanya harus sesuai dengan syariat dan usaha yang halal atas dasar ridha sama ridha. Dan janganlah kalian saling membunuh antara sebagian golongan terhadap sebagian yang lain, sehingga membinasakan diri kalian dengan melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah serta bermaksiat kepada-Nya. Allah Maha Penyayang kepada kalian dalam setiap perkara yang Dia perintahkan dan Dia larang atas kalian.
وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا {٣٠} 30. Barang siapa yang melanggar apa yang dilarang oleh Allah, berupa mengambil harta yang haram, seperti mencuri, ghashab dan melakukan tindak kecurangan, dengan penuh sikap permusuhan dan melanggar batasan syara' maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka yang panasnya membara. Yang demikian itu begitu mudah bagi Allah.
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا {٣١} 31. Jika kalian, wahai kaum beriman, menjauhi dosa-dosa besar, seperti menyekutukan Allah (syirk), durhaka kepada kedua orang tua, melakukan tindak pembunuhan tanpa dasar yang benar, dan semisalnya maka Kami akan menghapuskan dosa-dosa kecil yang kalian lakukan, lalu Kami akan memasukkan kalian ke tempat yang mulia, yaitu surga.
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا {٣٢} 32. Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang Allah karuniakan kepada sebagian dari kalian atas sebagian yang lain berkenaan dengan anugerah, rezeki dan sebagainya. Allah telah menjadikan bagi kaum laki-laki itu bagian tertentu dari pahala sesuai dengan amal mereka. Demikian juga Allah telah menjadikan bagian tertentu bagi kaum wanita dari apa yang mereka kerjakan. Memohonlah kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi, niscaya Dia akan memberikan karunia-Nya kepada kalian sebagai ganti dari keirian itu. Allah itu Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Dia lebih mengetahui apa yang memberikan maslahat kepada para hamba-Nya berkenaan dengan kebaikan (rezeki) yang Allah bagikan kepada mereka.
وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ ۚ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا {٣٣} 33. Masing-masing dari kalian, Kami jadikan pewaris yang akan mewarisi harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan karib kerabat. Dan orang-orang yang kalian telah bersumpah dengan mereka untuk melakukan pembelaan (memberi pertolongan) serta memberikan kepada mereka sebagian dari harta warisan, berikanlah bagian yang telah ditentukan itu kepada mereka. Allah Maha Melihat atas segala sesuatu dari amal perbuatan kalian, dan Dia akan memberikan balasan atas hal itu.
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا {٣٤} 34. Kaum laki-laki (suami) adalah pemimpin yang mengarahkan kaum wanita (istri) dan melindungi mereka. Oleh karena itu, Allah mengkhususkan mereka dengan kekhususan-kekhususan berupa kepemimpinan dan keutamaan karena mereka telah memberikan mahar dan nafkah kepada kaum wanita. Maka, wanita-wanita yang shalihah dan lurus di atas syariat Allah adalah wanita-wanita yang taat kepada Allah dan suami mereka, serta selalu menjaga segala sesuatu di luar pengetahuan (pengawasan) suami-suami mereka, karena telah dipercayakan kepada mereka, dengan penjagaan dari Allah dan bimbingan-Nya. Adapun wanita-wanita yang kalian khawatirkan tidak mau taat kepada kalian, berikanlah nasihat kepada mereka dengan kata-kata yang baik. Jika kata-kata yang baik ini tidak juga memberikan buahnya, tinggalkanlah (pisahkan) mereka di tempat tidur dan janganlah kalian dekati mereka. Jika hal ini belum juga memberikan hasil maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak sampai membahayakan. Jika mereka sudah patuh kepada kalian maka waspadalah jangan sampai berbuat zhalim terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar adalah Pelindung mereka. Dia akan memberikan balasan terhadap siapa saja yang berbuat zhalim dan aniaya terhadap mereka.
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا {٣٥} 35. Jika kalian, wahai para wali dari kedua pasangan (suami istri), mengetahui adanya persengketaan di antara keduanya yang menyebabkan kepada perceraian maka kirimkanlah kepada keduanya seorang penengah (hakam) yang adil dari pihak keluarga suami dan seorang penengah yang adil pula dari pihak keluarga istri. Agar kedua penengah itu dapat melihat dan mengambil keputusan yang di dalamnya terkandung maslahat bagi suami istri tersebut. Disebabkan keinginan kedua juru penengah untuk melakukan perbaikan disertai penggunaan cara yang baik maka Allah berkenan memberikan petunjuk kepada pasangan tersebut (mengharmoniskan mereka kembali). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya dari urusan para hamba-Nya serta Allah Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam hati mereka.
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا {٣٦} 36. Beribadahlah kepada Allah dan tunduklah hanya ke-pada-Nya semata. Janganlah kalian menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal rububiah dan ibadah. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua. Tunaikanlah hak-hak keduanya. Juga hak-hak karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang yang membutuhkan, tetangga yang dekat dari kalian dan juga tetangga yang jauh, teman seperjalanan dan teman di kala mukim, musafir yang membutuhkan, serta hak-hak para budak kalian, baik laki-laki maupun perempuan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri di antara para hamba-Nya yang mereka itu angkuh terhadap sesama manusia.
الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا {٣٧} 37. Yaitu orang-orang yang tidak mau berinfak dan memberi dari sebagian yang telah Allah anugerahkan kepada mereka, dan mereka menyuruh orang lain agar bersikap bakhil, mengingkari nikmat-nikmat Allah yang telah mereka terima, serta menyembunyikan karunia dan pemberian dari Allah. Kami siapkan bagi orang-orang yang ingkar itu adzab yang menghinakan.
وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا {٣٨} 38. Kami juga menyiapkan adzab yang sama bagi orang-orang yang menginfakkan harta mereka karena riya dan sum'ah, bukannnya karena membenarkan Allah dengan penuh keyakinan dan pengamalan dan bukan karena membenarkan Hari Kiamat. Perbuatan-perbuatan buruk ini termasuk yang diserukan oleh setan. Barang siapa yang menjadikan setan sebagai temannya maka sungguh setan itu adalah seburuk-buruk teman.
وَمَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ آمَنُوا بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقَهُمُ اللَّهُ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِهِمْ عَلِيمًا {٣٩} 39. Sebenarnya, kemudharatan apa yang akan menimpa mereka jikalau mereka membenarkan Allah dan Hari Akhir dalam hal keyakinan dan amalan, dan mereka mau mendermakan sebagian dari anugerah yang telah Allah berikan kepada mereka dengan penuh pengharapan dan keikhlasan. Allah Mahatahu tentang mereka dan apa yang mereka kerjakan, dan Allah akan memberikan balasan kepada mereka atas hal itu.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا {٤٠} 40. Allah tidak akan mengurangi sedikit pun balasan kepada seseorang atas amal perbuatannya. Jika saja amalan kebaikan itu hanya seberat timbangan semut kecil maka Allah akan menambah berat dan memperbanyak timbangannya untuk pelakunya serta berkenan memberikan tambahan kepadanya, lalu Dia akan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya, yaitu surga.
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا {٤١} 41. Bagaimanakah keadaan umat manusia pada Hari Kiamat, jika Allah mendatangkan dari masing-masing umat itu seorang rasul untuk memberikan kesaksian terhadap mereka berkenaan dengan apa yang mereka perbuat, dan Allah juga mendatangkanmu wahai Rasul, agar engkau menjadi saksi atas umatmu sendiri bahwa engkau telah menyampaikan risalah dari Rabbmu?
يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا {٤٢} 42. Pada hari tersebut, orang-orang yang kafir kepada Allah dan menyelisihi Rasul serta tidak taat kepadanya, berangan-angan kiranya Allah menjadikan mereka sama rata dengan tanah, lalu mereka menjadi tanah saja sehingga tidak dibangkitkan kembali. Mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu pun dari Allah perihal yang ada di dalam jiwa mereka. Allah telah menutup mulut mereka, sedangkan anggota badan mereka menjadi saksi atas segala yang telah mereka kerjakan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا {٤٣} 43. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, janganlah kalian mendekati dan menjalankan shalat pada saat sedang mabuk, sampai kalian dapat membedakan dan mengetahui apa yang kalian katakan. Hukum ini berlaku sebelum pengharaman khamr secara mutlak dalam kondisi apa pun. Jangan pula mendekati shalat ketika dalam kondisi janabat dan jangan pula mendekati tempat-tempat shalat, yaitu masjid, kecuali sekadar berlalu saja (melintas) dari pintu ke pintu; sehingga kalian bersuci (mandi). Jika kalian dalam keadaan sakit sehingga tidak mampu untuk menggunakan air untuk bersuci, atau dalam keadaan safar, atau salah seorang dari kalian datang dari tempat buang air, atau jika kalian habis berjimak dengan istri kalian; kemudian kalian tidak mendapatkan air untuk maka ambillah tanah yang bersih, lalu usapkan pada wajah dan kedua tangan kalian. Allah Maha Pemaaf kepada kalian serta Maha Pengampun.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يَشْتَرُونَ الضَّلَالَةَ وَيُرِيدُونَ أَنْ تَضِلُّوا السَّبِيلَ {٤٤} 44. Apakah kamu tidak mengetahui, wahai Rasul, perkara kaum Yahudi yang telah diberi bagian dari ilmu tentang Taurat yang telah mereka terima; di mana mereka menukar petunjuk dengan kesesatan, lantas mereka meninggalkan apa yang telah ada pada diri mereka berupa hujah-hujah dan bukti-bukti yang nyata, yang menunjukkan kebenaran risalah Rasulullah Muhammad dan mereka menginginkan kalian —wahai orang beriman yang mendapatkan petunjuk— agar menyimpang dari jalan yang lurus, sehingga kalian menjadi tersesat seperti mereka.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ نَصِيرًا {٤٥} 45. Allah lebih tahu daripada kalian, wahai orang-orang yang beriman, berkenaan dengan permusuhan yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap kalian. Cukuplah Allah sebagai Pelindung yang akan menjaga kalian. Cukuplah Dia sebagai Penolong yang akan menolong kalian dalam menghadapi (mengalahkan) musuh-musuh kalian.
مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا {٤٦} 46. Di kalangan kaum Yahudi itu terdapat sekelompok golongan yang suka mengganti firman Allah dan mengubahnya dari makna yang semestinya, sebagai bentuk kedustaan terhadap Allah. Mereka mengatakan kepada Rasulullah "Kami mendengar perkataanmu, namun kami langgar perintahmu. Dengarkan kami, sedangkan kamu tidak mendengar apa-apa." Mereka juga mengatakan, "Ra'ina!"(perhatikan kami dan pahamkan kami!)", dengan memainkan lidah mereka, sebenarnya mereka menghendaki kalimat itu sebagai doa keburukan terhadap beliau berupa ru'unah (kebodohan), sesuai dengan bahasa mereka, serta untuk mencela dinul Islam. Jika saja mereka mau mengatakan, "Kami mendengar dan kami patuh", sebagai ganti dari pernyataan, "kami melanggar", serta mengatakan, "dengarkan", bukannya "tak didengarkan", serta dengan mengatakan, "perhatikanlah kami" (unzhum'd) sebagai ganti dari kata, "ra'ina" (pahamkan kami -namun dimaksudkan dengan pengertian lain-) tentu yang demikian itu lebih baik bagi mereka di sisi Allah serta merupakan perkataan yang lebih adil. Akan tetapi, Allah telah mengusir mereka dari rahmat-Nya disebabkan oleh kekufuran dan keingkaran mereka terhadap Nabi Muhammad. Mereka itu tidaklah membenarkan kebenaran kecuali dengan pembenaran yang sedikit, yang tidak bermanfaat bagi mereka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَىٰ أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا {٤٧} 47. Wahai ahlukitab, berimanlah dan laksanakanlah apa yang telah Kami turunkan berupa kitab Al-Qur'an, yang membenarkan kitab-kitab yang ada pada kalian, sebelum Kami menyiksa kalian disebabkan oleh perilaku buruk kalian, lantas Kami ubah wajah-wajah kalian serta Kami balikkan bagian muka menjadi bagian punggung, atau kami kutuk orang-orang yang berbuat kerusakan itu dengan mengubah mereka menjadi kera dan babi, sebagaimana Kami pernah mengutuk kaum Yahudi dari kalangan Ashabus Sabt (orang-orang yang melakukan pelanggaran pada hari Sabtu), yang mereka itu telah dilarang untuk berburu/menjala pada hari tersebut, namun mereka tidak juga mengindahkannya. Lantas Allah pun murka kepada mereka dan mengusir mereka dari rahmat-Nya. Ketetapan Allah itu pasti berlaku dalam segala kondisi.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا {٤٨} 48. Allah tidak akan mengampuni dan tidak akan memaafkan orang yang menyekutukan-Nya dengan sesuatu dari makhluk-Nya, atau melakukan satu kekufuran dengan kategori kekufuran yang terbesar. Namun Allah memberikan ampunan dan memaafkan selain dosa-dosa syirik, kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya. Barang siapa yang menyekutukan Allah dengan selain-Nya maka ia telah melakukan perbuatan dosa besar.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا {٤٩} 49. Apakah kamu tidak mengetahui, wahai Rasul, perkara orang-orang yang memuji diri dan amal perbuatan mereka serta mensifati diri mereka dengan kesucian dan keterjauhan dari keburukan? Namun Allah sajalah yang memberikan pujian kepada siapa yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya, karena Allah mengetahui hakikat dari segala amal perbuatan mereka. Amalan mereka tidak akan dikurangi sedikit pun, walau seukuran benang yang terdapat pada belahan biji kurma.
انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَكَفَىٰ بِهِ إِثْمًا مُبِينًا {٥٠} 50. Perhatikanlah mereka, wahai Rasul, dengan penuh keheranan terhadap perkara mereka, bagaimana mereka itu sampai mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Cukuplah perbuatan mengada-adakan kebohongan ini sebagai sebuah bentuk dosa yang besar, yang menyingkap akan rusaknya keyakinan mereka.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا {٥١} 51. Tidakkah engkau ketahui, wahai Rasul, perkara orang-orang Yahudi yang diberi bagian dari ilmu, namun mereka masih saja membenarkan segala yang diibadahi selain Allah berupa berhala-berhala dan setan-setan dari jenis manusia dan jin, dalam bentuk pembenaran yang membawa mereka untuk berhukum kepada selain syariat Allah. Mereka mengatakan kepada orang-orang yang kafir kepada Allah s dan kafir kepada Rasul-Nya, yaitu Muhammad "Orang-orang kafir itu lebih lurus dan lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman."
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا {٥٢} 52. Mereka yang banyak melakukan kerusakan serta penuh dengan kesesatan itu dijauhkan oleh Allah dari rahmat-Nya. Barang siapa yang dijauhkan oleh Allah dari rahmat-Nya maka engkau tidak akan mendapati baginya seorang pun yang akan menolong dan menghalanginya dari adzab yang buruk.
أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا {٥٣} 53. Atau apakah mereka memiliki bagian dari kerajaan? Kalaupun mereka memilikinya, mereka tetap tidak dapat memberikan sedikit pun bagian darinya kepada seseorang, sekalipun hanya seukuran lubang pada sebiji kurma.
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۖ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا {٥٤} 54. Atau apakah mereka akan dengki kepada Muhammad atas apa yang telah Allah berikan kepadanya berupa nikmat kenabian dan kerasulan serta dengki kepada para sahabat beliau atas nikmat petunjuk kepada keimanan, membenarkan risalah, mengikuti Rasul serta kemenangan di muka bumi; lantas mereka berharap kiranya karunia tersebut lenyap dari mereka? Kami telah memberikan kepada keturunan Ibrahim beberapa kitab sebelumnya yang telah diturunkan kepada mereka, dan yang diwahyukan kepada mereka yang bukan dalam bentuk kitab bacaan, serta telah Kami berikan di samping itu kerajaan yang luas.
فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ ۚ وَكَفَىٰ بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا {٥٥} 55. Di antara orang-orang yang diberi bagian dari ilmu tersebut, ada yang membenarkan risalah Muhammad dan mengamalkan syariatnya, namun di antara mereka ada yang berpaling dan tidak mau memenuhi seruannya serta mencegah orang lain agar tidak mengikutinya. Cukuplah bagi kalian, wahai orang-orang yang mendustakan, Neraka Jahanam yang akan membakar kalian.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا {٥٦} 56. Sungguh orang-orang yang mengingkari apa yang telah Allah turunkan berupa ayat-ayat-Nya, wahyu Kitab-Nya, serta mengingkari bukti-bukti dan hujah-hujah-Nya, akan Kami masukkan mereka ke dalam Neraka Jahanam yang akan mereka rasakan panasnya. Setiap kali kulit mereka telah terbakar, Kami ganti mereka dengan kulit yang lain, agar adzab dan kepedihan itu dapat terus dirasakan oleh mereka. Allah Mahaperkasa tanpa ada yang bisa menghalangi-Nya, serta Mahabijaksana dalam pengaturan dan ketetapan-Nya.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا {٥٧} 57. Adapun orang-orang yang hati mereka tenteram dengan keimanan kepada Allah dan membenarkan risalah Rasul-Nya serta istiqamah di jalan ketaatan maka Kami akan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir berbagai sungai. Mereka merasakan kenikmatan di dalamnya selama-lamanya tanpa pernah keluar darinya. Mereka juga memiliki istri-istri yang disucikan oleh Allah dari segala bentuk kotoran. Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh, penuh dengan pepohonan yang membentang luas di dalam surga.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا {٥٨} 58. Allah memerintahkan kalian agar menunaikan amanah dengan segala macamnya yang diamanahkan kepada kalian, untuk diberikan kepada yang berhak atasnya. Jangan kalian melanggarnya. Demikian juga, Allah memerintahkan kalian agar dalam memutuskan perkara di antara manusia harus secara adil. Allah memberikan sebaik-baik pengajaran dan petunjuk kepada kalian. Allah Maha Mendengar segala perkataan kalian, Maha Mengetahui segala rahasia amal perbuatan kalian serta Maha Melihat semuanya itu.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا {٥٩} 59. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, penuhilah perintah-perintah Allah dan jangan sampai kalian melanggarnya. Penuhilah juga seruan Rasul berkenaan dengan kebenaran yang dibawa oleh beliau. Patuhlah kepada para ulil amri (pemimpin) kalian selain dalam hal kemaksiatan kepada Allah. Jika kalian berselisih pendapat mengenai suatu persoalan di antara kalian maka kembalikanlah keputusan hukumnya kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, yaitu Muhammad jika kalian memang beriman dengan sebenar-benar keimanan kepada Allah dan Hari Perhitungan. Pengembalian kepada Kitab dan Sunnah itu lebih baik bagi kalian daripada perselisihan dan mengedepankan pendapat, serta lebih baik akibat dan dampaknya.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا {٦٠} 60. Tidak tahukah engkau, wahai Rasul, urusan kaum munafik yang mengaku beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu, yaitu Al-Qur'an, dan juga mengaku beriman kepada kitab-kitab yang telah diturunkan kepada para rasul sebelummu? Mereka hendak berhakim dalam memutuskan perkara atas perselisihan yang terjadi di antara mereka kepada selain syariat Allah berupa kebatilan, sedangkan mereka telah diperintahkan agar mengkufuri kebatilan itu. Sedangkan setan itu bermaksud menjauhkan mereka dari jalan kebenaran sejauh-jauhnya. (Ayat ini menjadi dalil bahwa iman yang benar itu menuntut adanya ketundukan kepada syariat Allah dan berhukum kepadanya berkenaan dengan segala urusan. Barang siapa yang mengaku beriman, namun masih memilih hukum thaghut di atas hukum Allah maka pengakuannya itu dusta).
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا {٦١} 61. Apabila mereka itu diberi nasihat, dan dikatakan kepada mereka, "Marilah sama-sama mengikuti (tunduk kepada) hukum yang telah diturunkan oleh Allah dan mengikuti Rasul Muhammad dan petunjuk beliau!" maka engkau lihat orang-orang yang memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran (kaum munafik) itu melakukan penghalangan yang sekuat-kuatnya.
فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا {٦٢} 62. Bagaimana keadaan orang-orang munafik itu jika ditimpa suatu bencana disebabkan oleh apa yang dilakukan oleh tangan-tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu, wahai Rasul, untuk meminta maaf, sambil menguatkan permohonannya itu dengan sumpah bahwa mereka dengan perbuatan itu tidak bermaksud kecuali penyelesaian yang baik serta pendamaian antar seteru?
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا {٦٣} 63. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah ketahui apa yang ada di dalam hati mereka berupa kemunafikan. Oleh karena itu, berpalinglah dari mereka. Ingatkanlah mereka akan keburukan yang ada pada mereka. Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka dalam rangka mencegah mereka (dari perbuatan buruknya itu).
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا {٦٤} 64. Kami tidaklah mengutus seorang rasul pun di antara rasul-rasul Kami, melainkan agar dipatuhi berdasarkan perintah Allah dan ketetapan-Nya. Jika saja orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan melakukan perbuatan buruk itu datang kepadamu, wahai Rasul, ketika engkau masih hidup, dalam keadaan bertaubat dan memohon kepada Allah agar berkenan memberikan ampunan atas dosa-dosa mereka, dan engkau pun memohonkan ampunan untuk mereka maka mereka akan mendapati Allah itu Maha Penerima taubat serta Maha Penyayang.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {٦٥} 65. Bersumpahlah demi Allah dengan Dzat-Nya Yang Mulia, bahwa mereka itu tidaklah beriman dengan sesungguhnya sehingga mereka itu menjadikanmu sebagai hakim berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan ketika engkau masih hidup serta berhukum pula kepada Sunnahmu setelah engkau wafat, kemudian mereka tidak mendapati dalam diri mereka itu perasaan sempit (keberatan) berkenaan dengan keputusan yang engkau ambil, serta tunduk sepenuhnya dengan keputusan tersebut. Berhukum dengan hukum yang dibawa oleh Rasulullah yang terdapat dalam Kitab dan Sunnah berkenaan dengan segala urusan kehidupan, merupakan bagian dari kedalaman iman, dibarengi dengan keridhaan dan ketundukan.
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا {٦٦} 66. Jika Kami wajibkan atas orang-orang munafik yang berhukum kepada thaghut agar sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain, atau mengusir dari kampung halaman mereka, tentu mereka tidak akan melakukannya kecuali hanya sedikit saja dari mereka. Jika mereka melaksanakan apa yang dinasihatkan kepada mereka, tentu hal itu akan bermanfaat bagi mereka serta lebih menguatkan keimanan mereka.
وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا {٦٧} 67. Dan jika demikian, tentu Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, di dunia dan akirat.
وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا {٦٨} 68. Serta Kami bimbing dan Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا {٦٩} 69. Barang siapa mematuhi perintah-perintah Allah dan petunjuk Rasul-Nya Muhammad maka mereka itulah orang-orang yang kedudukan dan kehormatan mereka sangat agung. Mereka itu berteman dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah berupa surga. Yaitu mereka yang terdiri dari para nabi, para shidiqin yang pembenaran mereka sempurna terhadap segala yang dibawa oleh para rasul, baik dalam bentuk keyakinan, perkataan dan amalan, serta bersama para syuhada' (orang-orang yang mati syahid) di jalan Allah dan demi kemaslahatan kaum mukminin. Mereka itu merupakan sebaik-baik sahabat di dalam surga.
ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ عَلِيمًا {٧٠} 70. Anugerah yang besar itu berasal dari Allah semata. Cukuplah Allah Mahatahu, yang mengetahui segala keadaan para hamba-Nya dan mengetahui siapa saja dari mereka yang berhak mendapatkan pahala yang melimpah atas amal-amal shalih yang dahulu dikerjakannya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا {٧١} 71. Wahai orang-orang yang beriman, ambillah kewaspadaan dengan cara bersiap siaga dalam menghadapi musuh kalian. Keluarlah untuk menghadapi musuh itu, baik secara kelompok-kelompok atau maju bersama-sama sekaligus.
وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا {٧٢} 72. Sungguh di antara kalian terdapat sekelompok orang yang berlambat-lambat untuk keluar menghadapi musuh, diiringi dengan perasaan berat serta dengan sengaja menjatuhkan mental orang lain. Jika kalian ditakdirkan terkena musibah dengan terbunuh dan kalah maka mereka berkata dengan penuh perasaan senang, "Allah telah menjagaku, ketika aku tidak turut hadir bersama orang-orang yang tertimpa sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi pada diriku." la merasa senang karena tidak turut serta dalam peperangan.
وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا {٧٣} 73. Jika kalian mendapatkan karunia dari Allah serta mendapatkan rampasan perang, tentu mereka akan mengatakan dengan penuh kecemburuan dan penyesalan, seolah belum pernah ada hubungan kasih sayang secara lahiriah di antara kalian dengan mereka, "Aduhai kiranya kami bersama mereka, sehingga kami meraih keberuntungan seperti yang mereka raih, berupa keselamatan, kemenangan dan harta rampasan perang."
فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۚ وَمَنْ يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا {٧٤} 74. Hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat dan pahalanya, berjihad dalam rangka memenangkan din Allah dan meninggikan kalimat-Nya. Barang siapa berjihad di jalan Allah dengan penuh keikhlasan, lantas ia terbunuh atau menang maka Kami akan memberikan pahala yang agung kepadanya.
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا {٧٥} 75. Apa yang menghalangi kalian, wahai orang-orang yang beriman, untuk berjihad di jalan Allah dalam rangka membela din dan para hamba-Nya yang lemah dari kalangan kaum lelaki, wanita dan anak-anak yang dimusuhi, sementara mereka tidak memiliki daya upaya maupun sarana kecuali hanya meminta pertolongan kepada Rabb mereka dengan mengucapkan, "Wahai Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri Mekah ini, yang penduduknya berbuat zhalim terhadap diri mereka sendiri dengan berbuat kekufuran serta menzhalimi orang-orang beriman dengan menyakiti mereka. Jadikanlah untuk kami pemimpin dari sisi-Mu yang akan mengatur urusan kami dan jadikanlah penolong untuk kami, yang akan menolong kami dalam menghadapi orang-orang yang zhalim."
الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا {٧٦} 76. Orang-orang yang memiliki keimanan yang benar, baik dalam bentuk keyakinan dan amalan, berjihad dalam rangka membela kebenaran dan membela orang yang berpegang kepada kebenaran. Sementara itu, orang-orang yang kafir itu berperang di jalan kelaliman dan kerusakan di muka bumi. Oleh karena itu, wahai orang-orang yang beriman, perangilah pelaku kekufuran dan kesyirikan yang berwala' (memberikan loyalitas) kepada setan serta mematuhi perintah setan. Sungguh pengaturan setan terhadap para pengikutnya adalah lemah.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا {٧٧} 77. Tidakkah engkau ketahui, wahai Rasul, urusan orang-orang yang pernah dikatakan kepada mereka sebelum adanya izin untuk berjihad, "Tahanlah dulu tangan kalian dari memerangi musuh-musuh kalian dari kalangan kaum musyrikin. Kalian tunaikan saja ibadah yang telah difardhukan oleh Allah atas kalian, yaitu shalat dan zakat!" Ternyata setelah diwajibkannya perang atas mereka, tiba-tiba sekelompok dari mereka telah berubah keadaannya. Mereka berubah menjadi takut kepada musuh seperti rasa takut mereka kepada Allah, atau bahkan lebih. Mereka secara terang-terangan mengungkapkan dahsyatnya ketakutan mereka itu dengan mengatakan, "Wahai Rabb kami, mengapa engkau wajibkan perang atas kami? Mengapa Engkau tidak tangguhkan beberapa waktu ke depan?" Hal itu disebabkan oleh hasrat mereka terhadap kesenangan kehidupan dunia. Katakanlah, wahai Rasul, kepada mereka, "Kesenangan dunia itu hanyalah sedikit. Sedangkan akhirat dengan segala yang ada di dalamnya jauh lebih agung dan lebih kekal bagi orang yang bertakwa. Yaitu orang yang mengamalkan apa yang diperintahkan kepadanya dan menjauhi apa yang dilarang darinya. Rabbmu tidak akan berbuat zhalim sama sekali kepada seorang pun; meski hanya seukuran benang yang ada pada belahan biji kurma."
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا {٧٨} 78. "Di mana saja kalian berada, pastilah kematian akan mendapatkan kalian, di tempat apa pun kalian berada, pada saat ajal itu tiba. Sekalipun kalian berada di dalam benteng yang terlindung nan jauh dari medan pertempuran dan peperangan." Jika mereka memperoleh apa yang menyenangkan mereka, berupa kesenangan dalam hidup ini maka mereka mempertalikan hal itu kepada Allah. Namun jika mereka tertimpa oleh sesuatu yang tidak mereka inginkan, mereka mempertalikan hal itu kepada Rasul Muhammad karena kebodohan dan perasaan sial. Mereka tidak mengetahui bahwa semuanya berasal dari sisi Allah semata, berdasarkan qadha' dan qadar-Nya. Lalu ada apa gerangan sampai mereka itu tidak bisa memahami ucapan yang dinasihatkan kepada mereka.
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا {٧٩} 79. Kebaikan dan nikmat apa saja yang kalian terima, wahai manusia, adalah berasal dari Allah semata; sebagai bentuk karunia dan kebaikan dari-Nya. Sedangkan kesusahan dan kesulitan yang menimpa kalian adalah disebabkan perbuatan buruk kalian serta tindakan tangan kalian sendiri, yang berupa kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan. Kami mengutusmu, wahai Rasul, untuk seluruh umat manusia sebagai seorang rasul yang menyampaikan risalah Rabbmu kepada mereka. Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebenaran risalahmu.
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا {٨٠} 80. Barang siapa yang memenuhi seruan Rasul dan mengamalkan petunjuknya maka sebenarnya ia memenuhi seruan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Sebaliknya, orang yang berpaling dari menunaikan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh Kami tidaklah mengutusmu, wahai Rasul, terhadap orang-orang yang berpaling itu sebagai seorang pengawas yang menjaga amal perbuatan mereka serta menghisabnya. Hisab (atas amal perbuatan) mereka itu menjadi tanggungjawab Kami.
وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ ۖ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ ۖ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا {٨١} 81. Orang-orang yang berpaling itu ketika mereka berada di majelis Rasulullah mereka menampakkan ketaatan kepada beliau dan kepada ajaran apa saja yang beliau bawa. Jika mereka sudah menjauh dan pergi dari majelis beliau maka sebagian golongan dari mereka mengatur siasat buruk di malam harinya, berlawanan dengan kepatuhan yang mereka nyatakan. Mereka tidak sadar bahwa Allah membalas siasat buruk yang mereka rancang itu serta akan memperhitungkan balasan yang sempurna kepada mereka. Oleh karena itu, berpalinglah dari mereka, wahai Rasul, dan tidak usah engkau pedulikan mereka. Sesungguhnya mereka tidak akan memberikan kerugian terhadapmu. Bertawakallah kepada Allah dan cukuplah Dia sebagai Pelindung dan Penolong.
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا {٨٢} 82. Apakah mereka tidak mau memerhatikan Al-Qur'an berikut kebenaran yang terkandung di dalamnya dengan memikirkan dan merenungkannya baik-baik; karena ia datang dalam bentuk yang akurat, yang memastikan bahwa ia berasal dari Allah semata? Seandainya ia berasal dari selain-Nya, tentu mereka akan mendapatkan perselisihan (pertentangan) yang banyak di dalamnya.
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا {٨٣} 83. Jika datang kepada orang-orang yang belum memiliki keimanan yang mantap di dalam hati mereka itu suatu perkara yang wajib disembunyikan, berkenaan dengan keamanan yang kebaikannya kembali kepada Islam dan kaum muslimin; atau berupa ketakutan di dalam hati mereka sehingga tidak ada ketenangan; maka mereka mengumumkan dan menyebarkan berita itu di tengah-tengah masyarakat. Kalau saja mereka itu mau mengembalikan apa yang telah sampai pada mereka itu kepada Rasulullah dan kepada ahli ilmu dan paham din, tentu orang-orang yang ahli dalam menarik kesimpulan itu mengetahui hakikat maknanya daripada mereka. Kalau saja bukan karena Allah berkenan memberikan karunia dan rahmat kepada kalian, tentu kalian akan mengikuti setan dan bisikan-bisikannya, kecuali sedikit saja dari kalian (yang tidak mengikutinya).
فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ ۚ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلًا {٨٤} 84. Berjihadlah, wahai Nabi, di jalan Allah untuk meninggikan kalimat-Nya. Engkau tidak diharuskan untuk melakukan apa yang mesti dilakukan oleh orang lain dan engkau tidak akan dihukum dengannya. Kobarkanlah semangat pada orang-orang beriman untuk berperang dan jihad serta doronglah mereka untuk menunaikannya. Mudah-mudahan Allah berkenan menolak serangan dan kekuatan orang-orang kafir itu melalui dirimu dan juga melalui orang-orang yang beriman itu. Allah jauh lebih kuat dan lebih keras siksaan-Nya.
مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا {٨٥} 85. Barang siapa berusaha untuk memberikan kebaikan kepada orang lain maka ia mendapatkan bagian dari pahala atas syafaat yang ia berikan. Sebaliknya, barang siapa berusaha menimpakan keburukan kepada orang lain maka ia akan mendapatkan bagian dari dosanya. Allah menyaksikan dan menjaga segala sesuatu.
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا {٨٦} 86. Apabila ada orang muslim yang menyampaikan salam kepada kalian, balaslah dengan salam yang lebih utama dari yang ia ucapkan, baik kalimatnya maupun keceriaannya. Atau kalian balas sepadan dengan salam yang ia ucapkan. Masing-masing ada balasan dan pahalanya. Sesungguhnya Allah Maha Membalas segala sesuatu.
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا {٨٧} 87. Allah saja yang memiliki kekhususan uluhiah, yang punya hak untuk diibadahi oleh seluruh makhluk-Nya. Sungguh, Dia akan mengumpulkan kalian pada Hari Kiamat, yang tidak ada keraguan akan kepastian terjadinya, untuk menghitung amal perbuatan manusia serta untuk memberikan balasannya. Tidak ada seorang pun yang lebih benar perkataannya daripada Allah, berkenaan dengan apa yang dikabarkan.
فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا {٨٨} 88. Mengapa kalian, wahai orang-orang yang beriman, berselisih menjadi dua golongan dalam menyikapi orang-orang munafik? Satu golongan berpendapat perlunya memerangi mereka, sedangkan satu golongan lainnya mengatakan yang sebaliknya? Allah telah menakdirkan mereka dalam kekufuran dan kesesatan disebabkan oleh keburukan amal perbuatan mereka. Maka apakah kalian ingin memberikan petunjuk kepada orang yang hatinya telah dipalingkan oleh Allah dari din-Nya? Barang siapa yang disingkirkan oleh Allah dari din-Nya dan dari mengikuti apa yang diperintahkan oleh-Nya maka tidak ada jalan baginya menuju petunjuk.
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ۖ فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا {٨٩} 89. Kaum munafik itu berharap kiranya kalian, wahai orang-orang yang beriman, mengingkari hakikat yang telah diyakini oleh hati kalian sebagaimana apa yang telah mereka ingkari dengan hati mereka. Dengan demikian kalian menjadi sama seperti mereka dalam hal pengingkaran. Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai teman setia (orang kepercayaan) sehingga mereka berhijrah di jalan Allah, sebagai bukti akan kebenaran iman mereka. Jika mereka berpaling dari apa yang mereka itu diseru kepadanya maka tawanlah mereka di mana saja berada dan bunuhlah mereka. Janganlah kalian menjadikan seorang wali pun dari mereka selain Allah dan jangan pula menjadikan mereka sebagai penolong kalian.
إِلَّا الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ أَوْ جَاءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَنْ يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ ۚ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا {٩٠} 90. Akan tetapi, orang-orang yang menjalin hubungan dengan suatu kaum (meminta suaka kepadanya), yang antara kalian dengan kaum itu terdapat perjanjian dan piagam (perdamaian) maka janganlah kamu perangi mereka. Demikian juga orang-orang yang datang kepada kalian dalam keadaan sempit dada (keberatan untuk melakukan perlawaan) serta tidak suka memerangi kalian sebagaimana mereka juga tidak suka jika harus memerangi kaum mereka sendiri, sehingga mereka ini tidak bersama kalian (tidak berpihak kepada kalian) namun juga tidak bersama mereka; maka janganlah kalian memerangi mereka. Jika saja Allah menghendaki maka Dia memberi kekuasaan kepada mereka atas kalian, lalu pastilah mereka memerangi kalian bersama-sama dengan musuh-musuh kalian dari kalangan kaum musyrikin. Akan tetapi, Allah memalingkan mereka dari kalian dengan karunia dan kekuasaan-Nya. Jika mereka membiarkan kalian sehingga mereka tidak memerangi, lantas mereka tunduk kepada kalian maka tidak ada jalan (alasan) bagi kalian untuk memerangi mereka.
سَتَجِدُونَ آخَرِينَ يُرِيدُونَ أَنْ يَأْمَنُوكُمْ وَيَأْمَنُوا قَوْمَهُمْ كُلَّ مَا رُدُّوا إِلَى الْفِتْنَةِ أُرْكِسُوا فِيهَا ۚ فَإِنْ لَمْ يَعْتَزِلُوكُمْ وَيُلْقُوا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ وَيَكُفُّوا أَيْدِيَهُمْ فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ ۚ وَأُولَٰئِكُمْ جَعَلْنَا لَكُمْ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا مُبِينًا {٩١} 91. Kelak kalian akan dapati suatu kaum lain dari kalangan kaum munafik yang ingin mendapatkan ketenangan hati di sisi kalian, sehingga mereka menampakkan keimanan kepada kalian, namun mereka juga ingin mendapatkan ketenangan hati di sisi kaum mereka yang kafir, sehingga mereka menampakkan kekufuran di hadapan kaum mereka tersebut. Setiap kali mereka dikembalikan ke kampung kekufuran dan daerah orang-orang kafir, mereka masuk ke dalam kondisi yang paling buruk. Mereka itu jika tidak mau menyingkir dari kalian (membiarkan kalian), memberikan kepasrahan sepenuhnya, serta mencegah diri mereka dari melakukan tindakan memerangi kalian; maka tawanlah mereka dengan kekuatan kalian dan perangilah di mana saja mereka berada. Mereka itu adalah orang-orang yang berada pada jalan yang buruk yang telah sampai pada puncaknya, yang membedakan mereka dari orang yang memusuhi mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang telah Kami jadikan adanya alasan yang nyata bagi kalian untuk memerangi dan menawan mereka.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا {٩٢} 92. Tidaklah dibenarkan bagi seorang mukmin untuk memusuhi saudaranya sesama mukmin dan membunuhnya tanpa alasan yang benar, kecuali jika hal itu terjadi karena tersalah tanpa ada kesengajaan di dalamnya. Barang siapa yang tanpa sengaja menyebabkan saudaranya terbunuh olehnya maka ia berkewajiban memerdekakan seorang budak yang beriman serta membayar diat tertentu yang diserahkan kepada keluarganya (walinya); kecuali jika mereka menyedekahkan hal itu atasnya (membebaskannya dari pembayaran diat) dan memaafkannya. Jika pihak yang terbunuh berasal dari kaum kafir yang merupakan musuh orang-orang yang beriman, sedangkan pihak yang membunuh adalah orang yang beriman kepada Allah dan kebenaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad maka hendaklah pihak yang membunuhnya memerdekakan budak yang beriman. Jika antara yang terbunuh itu berasal dari suatu kaum yang terdapat perjanjian dan piagam antara kalian dengan mereka maka pihak yang membunuhnya harus membayar diat yang diserahkan kepada para walinya serta memerdekakan seorang budak yang beriman. Jika ia tidak mempunyai kemampuan untuk memerdekakan seorang budak yang beriman, ia harus (menggantinya dengan) berpuasa selama dua bulan berturut-turut, agar Allah berkenan menerima taubatnya. Allah Maha Mengetahui akan hakikat keadaan para hamba-Nya, serta Mahabijaksana berkenaan dengan segala yang disyariatkan kepada mereka.
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا {٩٣} 93. Barang siapa yang melakukan tindak permusuhan kepada seorang mukmin sehingga ia membunuhnya secara sengaja tanpa alasan yang benar, balasannya adalah Neraka Jahanam. la kekal di dalamnya dengan mendapatkan kemurkaan dari Allah serta dijauhkan oleh-Nya dari rahmat-Nya; jika Allah membalasnya atas dosanya. Dan Allah menyediakan untuknya sekeras-keras adzab disebabkan oleh tindak kejahatan sangat besar yang dilakukannya. (Akan tetapi, Allah memberikan maaf dan karunia kepada orang yang beriman sehingga tidak akan membalas mereka dengan kekekalan di dalam Neraka Jahanam).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا {٩٤} 94. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, jika kalian keluar bepergian di muka bumi dalam rangka jihad di jalan Allah maka kalian harus benar-benar mendapatkan kejelasan mengenai apa yang kalian lakukan dan apa yang kalian tinggalkan (membunuh atau tidak). Jangan sampai kalian menafikan keimanan dari orang yang tampak darinya sesuatu yang merupakan tanda-tanda keislaman serta tidak memerangi kalian, karena ada kemungkinan bahwa ia sebenarnya sudah beriman namun menyembunyikan keimanannya; (lantas kalian bunuh) untuk mencari harta benda dunia. Allah memiliki karunia dan pemberian yang akan mencukupi kalian. Seperti itulah kalian dahulu di permulaan Islam; kalian menyembunyikan keimanan dari kaum kalian yaitu kalangan kaum musyrikin, lalu Allah memberikan anugerah kepada kalian serta memuliakan kalian dengan keimanan dan kekuatan. Oleh karena itu, jadilah kalian selalu teliti dan mengetahui dalam segala urusan kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui se-gala amal perbuatan kalian serta Maha Mengawasi segala urusan kalian yang tersembunyi sekalipun, serta akan memberikan balasan atasnya.
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا {٩٥} 95. Adalah tidak sama antara orang-orang yang duduk saja tanpa mau berjihad di jalan Allah, kecuali orang-orang yang memang memiliki udzur, dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di atas orang-orang yang hanya duduk tanpa mau berangkat berjihad serta mengangkat kedudukan mereka dengan derajat yang tinggi di surga. Allah telah menjanjikan surga kepada setiap orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka serta orang-orang yang duduk tanpa ikut berjihad karena ada udzur, disebabkan apa yang telah mereka curahkan dan mereka korbankan di jalan Allah. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di atas orang-orang yang duduk tanpa berangkat ke medan jihad, dengan pahala yang besar.
دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا {٩٦} 96. Balasan yang banyak ini, yang berupa kedudukan-kedudukan yang tinggi di surga, adalah karunia dari Allah yang diberikan secara khusus bagi para hamba-Nya yang berjihad di jalan-Nya, pengampunan atas dosa-dosa mereka, serta rahmat yang luas yang mereka nikmati di dalamnya. Allah Maha Pengampuan bagi siapa saja yang bertaubat dan kembali kepada-Nya, serta Maha Merahmati orang-orang yang taat kepada-Nya, yang berjihad di jalan-Nya.
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا {٩٧} 97. Sesungguhnya orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan menzhalimi diri mereka sendiri dengan tetap duduk (diam) di negeri kekufuran (darul kufr) dan tidak mau ikut berhijrah maka para malaikat itu bertanya kepada mereka dalam bentuk pencelaan,"Dalam kondisi bagaimana kalian ini berkenaan dengan urusan din kalian?" Mereka menjawab, "Kami ini adalah orang-orang yang lemah di negeri kami (Mekah); tak mampu menolak kezhaliman maupun menundukkannya dari kami." Dengan nada mencela, para malaikat itu berkata kepada mereka, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian bisa keluar dari negeri kalian ke negeri lain, dimana kalian bisa menjamin keamanan bagi din kalian?!" Tempat mereka adalah neraka. Betapa sangat buruk tempat kembali seperti ini.
إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا {٩٨} 98. Dikecualikan dari mendapatkan tempat kembali yang buruk seperti itu, orang-orang yang lemah dari kalangan lelaki, wanita dan anak-anak, yang mereka itu tidak mampu menghindar dari penindasan dan kelaliman dari diri mereka serta tidak mengetahui jalan yang bisa menyelamatkan mereka dari penderitaan yang mereka alami.
فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا {٩٩} 99. Kaum lemah itu merekalah yang diharapkan semoga mendapatkan maaf dari Allah karena Allah lebih tahu akan hakikat urusan mereka. Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا {١٠٠} 100. Barang siapa keluar (hijrah) dari negeri kemusyrikan menunju negeri Islam, dalam rangka lari untuk menyelamatkan din-nya, demi mengharap ridha Rabbnya serta dengan tujuan memenangkan din-Nya maka ia pasti akan mendapatkan tempat di muka bumi serta tempat pengganti yang dapat ia nikmati, yang bisa menjadi penyebab kekuatannya sekaligus penyebab kerendahan dan kelemahan para musuhnya. Di samping itu juga mendapatkan keluasan dalam hal rezeki dan penghidupannya. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan tujuan membela din Allah dan din Rasul-Nya serta meninggikan kalimah Allah, kemudian kematian menghampirinya sebelum ia sampai ke tempat tujuannya, ia tetap mendapatkan pahala atas amalannya di sisi Allah, sebagai bentuk karunia dan kemurahan dari-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada para hamba-Nya.
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا {١٠١} 101. Jika bepergian di bumi Allah, wahai orang-orang yang beriman, kalian tidak berdosa untuk mengqashar shalat jika mengkhawatirkan permusuhan yang dilakukan oleh orang-orang kafir pada saat kalian sedang mengerjakan shalat. Sebagian besar safar yang dilakukan oleh kaum muslimin pada waktu permulaan Islam, memang menakutkan. Qashar (meringkas shalat) merupakan rukhshah (keringanan) ketika safar, baik dalam kondisi aman maupun ketakutan. Sesungguhnya orang-orang kafir itu secara terang-terangan melakukan permusuhan terhadap kalian. Oleh karena itu, waspadailah mereka.
وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا {١٠٢} 102. Jika kamu, wahai Nabi, sedang dalam suasana perang, sedangkan engkau ingin mengerjakan shalat bersama mereka maka hendaklah sekelompok dari mereka mengerjakan shalat bersamamu dan sambil mereka mengambil (menyandang) senjata. Jika mereka itu telah sujud, hendaklah sekelompok yang lainnya di belakang kalian menghadapi musuh kalian, lantas kelompok yang pertama menyelesaikan sendiri rakaat mereka yang kedua, kemudiah salam. Selanjutnya kelompok lainnya yang belum mulai mengerjakan shalat, hendaklah mereka mengerjakan shalat bersamamu dalam rakaat pertama mereka, kemudian mereka menyempurnakan sendiri rakaat yang kedua. Hendaklah mereka waspada terhadap musuh, dan mengambil senjata mereka. Orang-orang kafir terhadap din Allah itu menginginkan agar kalian lengah terhadap senjata dan perbekalan; sehingga mereka bisa menyerbu kalian dengan sekali serbuan saja, lantas mereka bisa membunuh kalian. Tidak ada dosa atas kalian jika memang kalian mengalami suatu gangguan karena hujan atau dalam keadaan sakit, untuk meletakkan senjata kalian, namun tetaplah waspada. Sesungguhnya Allah menyiapkan untuk orang-orang yang kafir kepada din-Nya itu adzab yang menghinakan mereka.
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا {١٠٣} 103. Jika kalian telah selesai menunaikan shalat maka teruslah mengingat Allah (dzikir) dalam segala keadaan. Jika telah hilang perasaan takut maka tunaikanlah shalat secara utuh. Jangan sampai kalian sampai mengabaikannya, karena ia merupakan kewajiban di waktu-waktu yang telah ditetapkan oleh syara'.
وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا {١٠٤} 104. Janganlah kalian merasa lemah ketika mengejar dan memerangi musuh kalian. Jika kalian menderita kesakitan karena perang dan karena segala dampaknya maka para musuh kalian juga merasakan penderitaan yang lebih pedih lagi disebabkan perang. Namun demikian, mereka tidak juga berhenti dari memerangi kalian. Maka dari itu, kalian sebenarnya lebih layak untuk bersikap seperti itu daripada mereka, karena kalian mengharap pahala, pertolongan dan dukungan,sedangkan mereka tidak memiliki harapan seperti itu. Allah Maha Mengetahui segala keadaan kalian serta Mahabijaksana berkenaan dengan segala perintah dan pengaturan-Nya.
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا {١٠٥} 105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu, wahai Rasul, yang berisi kebenaran. Supaya engkau mengadili seluruh umat manusia berdasarkan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu dan telah dipahamkan kepadamu oleh-Nya. Oleh karena itu, janganlah kamu menjadi pembela bagi orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri dengan cara menyembunyikan kebenaran, karena mereka menguatkan pernyataan kepadamu yang menyalahi kenyataan (kebenaran).
وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا {١٠٦} 106. Mintalah ampunan kepada Allah berkenaan dengan segala keadaanmu. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun bagi siapa saja yang mengharap karunia dan ampunan-Nya serta Maha Penyayang kepadanya.
وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا {١٠٧} 107. Janganlah kamu melakukan pembelaan terhadap orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang begitu besar khianatnya serta banyak berdosa.
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا {١٠٨} 108. Mereka bersembunyi dari manusia karena khawatir perbuatan buruk mereka itu terbongkar di hadapan sesama manusia, namun mereka tidak akan bisa bersembunyi dari Allah serta tidak memiliki rasa malu terhadap-Nya. Padahal Allah Yang Mahamulia bersama mereka dengan ilmu-Nya, mengetahui keadaan mereka ketika mereka mengatur segala sesuatunya di malam hari, berupa perkataan yang tidak diridhai oleh-Nya. Allah Maha Meliputi segala ucapan dan perkataan mereka. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.
هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَنْ يُجَادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا {١٠٩} 109. Beginilah kalian, wahai orang-orang yang beriman, bahwa kalian telah berdalil untuk membela orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan berani memberikan pembelaan terhadap mereka di hadapan Allah pada Hari Kebangkitan dan Perhitungan? Dan siapakah pula yang bisa menjadi pelindung terhadap orang-orang yang berkhianat itu pada Hari Kiamat?
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا {١١٠} 110. Barang siapa melakukan perbuatan yang buruk, atau berbuat zhalim terhadap diri sendiri dengan melanggar apa saja yang menyelisihi hukum Allah dan syariat-Nya, kemudian ia kembali kepada Allah dengan meyesali apa yang telah dikerjakannya itu demi mengharap ampunan-Nya dan penghapusan dosa-nya maka pastilah ia akan mendapati Allah sebagai Dzat Yang Maha Pengampun dan Penyayang kepadanya.
وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا {١١١} 111. Barang siapa yang dengan sengaja melakukan perbuatan dosa, hal itu hanya akan memberikan kerugian terhadap diri mereka sendiri. Allah Maha Mengetahui hakikat urusan para hamba-Nya serta Mahabijaksana berkenaan dengan segala hal yang Dia putuskan di antara para makhluk-Nya.
وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا {١١٢} 112. Barang siapa yang melakukan suatu kesalahan tanpa disengaja, atau melakukan tindakan dosa dengan sengaja, kemudian ia menuduhkan perbuatan dosa yang dikerjakannya itu kepada orang yang tidak bersalah, yang tidak melakukan tindak kejahatan maka sesungguhnya ia telah menanggung kedustaan dan dosa yang nyata.
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ أَنْ يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ ۖ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِنْ شَيْءٍ ۚ وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا {١١٣} 113. Kalau saja Allah tidak memberikan karunia kepadamu, wahai Rasul, serta tidak merahmatimu dengan nikmat kenabian, lalu Dia melindungimu dengan taufik-Nya melalui apa yang telah diwahyukan kepadamu, tentu sekelompok orang yang mengkhianati diri mereka sendiri itu bertekad untuk menggelincirkanmu dari jalan kebenaran, padahal sebenarnya mereka itu tidak menggelincirkan kecuali diri mereka sendiri. Mereka tidak akan kuasa untuk menyakitimu, karena perlindungan yang diberikan oleh Allah kepadamu. Allah menurunkan Al-Qur'an serta Sunnah yang menjelaskannya. Allah memberikan petunjuk kepadamu pada ilmu yang sebelumnya tidak kamu ketahui. Karunia yang telah Allah khususkan untukmu itu merupakan sesuatu yang agung.
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا {١١٤} 114. Tidak ada manfaat pada kebanyakan perkataan manusia yang dilakukan secara rahasia di antara mereka, kecuali jika perkataan itu mengajak untuk melakukan kemakrufan yang berupa sedekah, atau perkataan yang baik, atau mendamaikan hubungan antara sesama manusia. Barang siapa yang melakukan hal-hal tersebut demi mencari ridha Allah r serta berharap pahala dari-Nya maka Kami akan memberikan pahala yang banyak dan luas kepadanya.
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا {١١٥} 115. Barang siapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas kebenaran itu baginya, lalu ia menempuh jalan selain jalan orang-orang yang beriman serta kebenaran yang ada pada mereka, Kami biarkan ia mengarah ke mana saja yang hendak ia tuju, sehingga Kami tidak memberinya petunjuk kepada kebaikan, dan kemudian Kami masukkan ia ke Jahanam dengan merasakan panasnya. Sungguh, Jahanam itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا {١١٦} 116. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan ampunan atas dosa menyekutukan sesuatu dengan-Nya, namun Dia akan memberikan ampunan kepada dosa-dosa selain syirik kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya. Barang siapa yang meyakini adanya sekutu bagi Allah Yang Maha Ahad dari para makhluk-Nya maka ia telah menjauh dari kebenaran dengan sejauh-jauhnya.
إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا {١١٧} 117. Apa yang diibadahi selain Allah oleh orang-orang musyrik itu tidak lain adalah berhala-berhala yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat ataupun mudharat. Mereka itu sebenarnya tidaklah beribadah (menyembah) kecuali kepada setan yang durhaka kepada Allah; dimana setan itu telah melakukan tindak kerusakan dan perusakan yang besar.
لَعَنَهُ اللَّهُ ۘ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا {١١٨} 118. Allah mengusirnya dari rahmat-Nya. Sedangkan setan berkata, "Sungguh, aku akan menjadikan di antara para hamba-Mu itu bagian tertentu untuk aku sesatkan, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan."
وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا {١١٩} 119. "Sungguh, aku akan memalingkan siapa saja yang mengikutiku di antara mereka dari kebenaran; aku janjikan dengan angan-angan kosong; aku suruh mereka untuk memotong dan membelah telinga-telinga binatang ternak karena aku hiaskan kebatilan kepada mereka; serta aku suruh mereka untuk mengubah ciptaan Allah dari penciptaan dan bentuk aslinya." Barang siapa yang menyambut ajakan setan serta menjadikannya sebagai penolong baginya selain Allah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa maka sungguh ia telah binasa dengan kebinasaan yang nyata.
يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا {١٢٠} 120. Setan itu memberikan janji kepada para pengikutnya dengan janji-janji palsu serta membangkitkan angan-angan kosong nan menipu. Setan itu tidaklah menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka, yang sama sekali tidak ada buktinya.
أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا {١٢١} 121. Tempat kembali mereka itu adalah Jahanam. Mereka sama sekali tidak mendapatkan tempat lari dan tempat berlindung.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا {١٢٢} 122. Sedangkan orang-orang yang betul-betul beriman kepada Allah serta mengiringi keimanannya itu dengan amal-amal yang shalih, Allah akan memasukkan mereka dengan karunia-Nya ke dalam surga-surga, yang dari bawah pepohonannya mengalir berbagai sungai. Mereka tinggal di sana selama-lamanya. itu adalah sebagai janji dari Allah yang tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Tidak ada seorang pun yang lebih benar daripada Allah baik dalam perkataan maupun janji.
لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا {١٢٣} 123. Karunia yang agung ini tidak bisa diperoleh dengan angan-angan yang kalian semua angankan, wahai kaum muslimin, dan tidak juga dengan angan-angan ahlukitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Akan tetapi, ia bisa diperoleh dengan keimanan kepada Allah serta memperbagus amalan yang diridhai oleh-Nya. Barang siapa yang mengerjakan perbuatan yang buruk (jahat), pasti ia akan mendapatkan balasannya. Sedangan ia tidak mendapatkan selain Allah seorang wali pun yang dapat mengatasi urusan dan keadaannya, serta tidak akan mendapatkan penolong yang akan menolongnya dan yang akan menolak darinya siksaan yang buruk.
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا {١٢٤} 124. Barang siapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman kepada Allah dan beriman dengan kebenaran yang diturunkan oleh-Nya maka mereka itu akan dimasukkan oleh Allah ke dalam surga, yaitu kampung kenikmatan yang abadi. Pahala dari amal perbuatan mereka tidak akan dikurangi sedikit pun, sekalipun hanya seukuran lubang pada sebiji kurma.
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا {١٢٥} 125. Tidak ada seorang pun yang lebih bagus din-nya daripada orang yang tunduk dengan hatinya dan dengan seluruh anggota tubuhnya kepada Allah semata, sedangkan ia berbuat kebaikan dan mengikuti din Ibrahim dan syariatnya serta berpaling dari akidah-akidah yang rusak dan syariat-syariat yang batil. Allah telah memilih Ibrahim dan menjadikannya khalil (kekasih dekat) di antara para makhluk-Nya. [Dalam ayat ini terdapat penetapan sifat khullah bagi Allah Sifat ini merupakan kedudukan yang tertinggi dari derajat cinta dan pemilihan kekasih].
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا {١٢٦} 126. Milik Allahlah seluruh makhuk yang ada di jagat raya ini. Seluruhnya menjadi milik-Nya semata. Allah Maha Meliputi segala sesuatu.Tidak ada sesuatu pun dari urusan makhluk-Nya yang tersembunyi bagi-Nya.
وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ ۖ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْوِلْدَانِ وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِالْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا {١٢٧} 127. Orang-orang meminta kepadamu, wahai Nabi, agar engkau menjelaskan kepada mereka perihal yang susah dipahami berkenaan dengan persoalan-persoalan kewanitaan dan hukum-hukum yang terkait dengannya. Katakanlah, "Allah akan menjelaskan kepada kalian tentang urusan-urusan yang terkait dengan mereka, serta tentang apa yang dibacakan kepada kalian dalam Kitab Al-Qur'an mengenai wanita-wanita yatim yang kalian tidak berikan kepada mereka apa yang telah Allah tetapkan bagi mereka, berupa mahar dan warisan serta hak-hak lainnya; namun kalian ingin menikahinya, atau kalian tidak suka jika mereka menikah (dengan orang lain). Allah menjelaskan kepada kalian perihal kaum lemah dari kalangan anak-anak kecil serta kewajiban untuk mengurus anak-anak yatim secara adil dan tidak berbuat curang terhadap hak-hak mereka. Kebaikan apa pun yang kalian lakukan maka Allah mengetahuinya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya dari kebaikan itu maupun yang lainnya."
وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا {١٢٨} 128. Jika seorang wanita itu mengetahui adanya sikap angkuh suaminya terhadapnya dan maunya menang sendiri, atau berpaling darinya maka tidak ada dosa atas keduanya untuk melakukan perdamaian sesuai dengan apa yang menyenangkan (memuaskan) hati keduanya, berupa pembagian (giliran) dan pemberian nafkah. Namun perdamaian itu lebih baik dan utama. Jiwa manusia itu memang tercipta dengan tabiat kekikiran. Jika kalian memperbaiki muamalah dengan istri-istri kalian dan kalian memiliki rasa takut kepada Allah berkenaan dengan mereka itu, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan tersebut dan perbuatan-perbuatan lainnya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Dan Dia akan memberikan balasan kepada kalian atas itu semua.
وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا {١٢٩} 129. Kalian, wahai kaum lelaki, tidak akan mampu mewujudkan keadilan yang sempurna di antara istri-istri kalian dalam hal cinta dan kecondongan hati, sekalipun kalian mencurahkan daya upaya untuk bisa berbuat demikian. Maka dari itu, janganlah kalian berpaling sedemikian rupa dari istri yang kurang kalian cintai, lantas kalian membiarkannya seperti wanita yang tidak bersuami dan tidak pula diceraikan, sehingga kalian berdosa. Jika kalian memperbaiki amal perbuatan kalian dengan berbuat adil dalam pembagian (giliran) di antara istri-istrimu, lantas kalian merasa senantiasa diawasi oleh Allah dan takut kepada-Nya berkenaan dengan urusan istri-istri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengampun kepada para hamba-Nya serta Maha Penyayang kepada mereka.
وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا {١٣٠} 130. Jika terjadi perceraian antara seorang lelaki dengan istrinya maka sesungguhnya Allah memberikan kecukupan kepada nnasing-masing dari keduanya dari limpahan karunia dan kemurahan-Nya. Sesungguhnya Allah Mahaluas karunia dan anugerah-Nya serta Mahabijaksana berkenaan dengan segala yang ditetapkannya terhadap para hamba-Nya.
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا {١٣١} 131. Hanya milik Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kalian dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan juga Kami telah memerintahkan kepada kalian, wahai umat Muhammad, agar bertakwa kepada Allah menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kami juga telah menjelaskan kepada kalian bahwa jika kalian mengingkari wandaniyah Allah dan mengingkari syariat-Nya maka sesungguhnya Dia Mahakaya sehingga tidak membutuhkan kalian. Sebab, segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya semata. Allah Mahakaya sehingga tidak membutuhkan makhluk-Nya, serta Maha Terpuji dalam segala sifat dan perbuatan-Nya.
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا {١٣٢} 132. Hanya kepunyaan Allahlah kerajaan yang ada di jagad raya ini (langit dan bumi). Cukuplah Dia sebagai Pemelihara segala urusan makhluk-Nya serta sebagai Penjaganya.
إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ وَيَأْتِ بِآخَرِينَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ قَدِيرًا {١٣٣} 133. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan memusnahkan kalian, wahai umat manusia, lalu mendatangkan kaum lain selain kalian. Allah Mahakuasa untuk melakukan hal itu.
مَنْ كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا {١٣٤} 134. Barang siapa di antara kalian yang menginginkan pahala (balasan) dunia dan berpaling dari akhirat maka sesungguhnya di sisi Allah semata tersedia pahala dunia dan akhirat. Hendaklah ia meminta kepada Allah semata kebaikan dunia dan akhirat, karena Allah yang memiliki keduanya. Allah Maha Mendengar terhadap perkataan seluruh hamba-Nya serta Maha Melihat segala amal dan niat mereka. Allah akan memberikan balasan atas itu semua.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا {١٣٥} 135. Wahai orang-orang yang membenarkan AIIah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, jadilah kalian orang-orang yang menegakkan keadilan, memberikan kesaksian semata karena Allah, sekalipun terhadap diri kalian sendiri, atau ayah dan ibu kalian, atau kerabat kalian. Jika keadaan orang yang mendapatkan persaksian (terdakwa) itu kaya atau miskin maka sesungguhnya Allah lebih mengerti tentang keduanya daripada kalian, serta lebih tahu akan kemaslahatan keduanya. Oleh karena itu, jangan sampai hawa nafsu dan fanatisme menyebabkan kalian untuk tidak bersikap adil. Jika kalian mengubah kesaksian dengan lidah kalian, lantas kalian menyampai-kannya tidak sebagaimana mestinya, atau berpaling darinya dengan tidak menunaikannya atau menyembunyikannya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala perbuatan kalian, dan Dia akan memberikan balasan atasnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا {١٣٦} 136. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, tetaplah kalian di atas apa yang kalian sudah berada padanya, yaitu pembenaran (keimanan) yang kuat kepada Allah Rasul-Nya yaitu Muhammad dengan cara menaati keduanya. Juga membenarkan Al-Qur'an yang telah diturunkan oleh Allah kepadanya dan membenarkan seluruh kitab yang telah diturunkan oleh Allah kepada para rasul. Barang siapa yang mengingkari (kufur kepada) Allah, para malaikat-Nya yang mulia, kitab-kitab yang telah diturunkan oleh-Nya untuk memberikan hidayah kepada makhluk-Nya, rasul-rasul yang telah Dia pilih untuk menyampaikan risalah-Nya, serta mengingkari Hari Akhir yang ketika itu umat manusia bangkit kembali setelah kematian mereka untuk menghadap kepada Allah dan untuk dihisab, maka ia telah keluar dari din (Islam) serta menjadi jauh sejauh-jauhnya dari jalan kebenaran.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا {١٣٧} 137. Sesungguhnya orang-orang yang masuk ke dalam iman, kemudian keluar darinya menuju kekufuran, kemudian kembali kepada iman, kemudian keluar lagi kepada kekufuran, lantas terus menerus berada di atas kekufuran; maka Allah tidak akan sudi memberikan ampunan kepada mereka, serta tidak akan menunjukkan kepada mereka jalan petunjuk yang akan menyelamatkan mereka dari seburuk-buruk akibat.
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا {١٣٨} 138. Sampaikanlah "kabar gembira", wahai Rasul, kepada orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang menampakkan keimanan namun menyembunyikan kekufuran, bahwa bagi mereka adzab yang menyakitkan.
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا {١٣٩} 139. Yaitu orang-orang yang memberikan loyalitas (wala') kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka sebagai penolong, serta meninggalkan loyalitas kepada orang-orang mukmin dan tidak suka untuk mencintai mereka. Apakah dengan hal itu mereka meminta bantuan dan perlindungan dari orang-orang kafir? Sesungguhnya mereka tidak memiliki hal itu. Kemenangan, keperkasaan dan kekuatan itu seluruhnya hanya milik Allah, semata.
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا {١٤٠} 140. Sungguh, telah turun kepada kalian, wahai orang-orang yang beriman, di dalam kitab Rabb kalian bahwa sesungguhnya jika kalian mendengar pengkufuran terhadap ayat-ayat Allah dan memperolokkannya, jangan sampai kalian duduk bersama orang-orang kafir dan orang-orang yang memperolok tersebut. Kecuali jika mereka beralih kepada pembicaraan selain kekufuran dan perolokan terhadap ayat-ayat Allah. Sesungguhnya jika kalian duduk-duduk bersama mereka, sedangkan mereka masih melakukan hal yang demikian maka kalian berarti sama seperti mereka. Karena kalian rela terhadap kekufuran dan perolokan yang mereka lakukan, sedangkan orang yang rela dengan kemaksiatan sama halnya dengan pelaku kemaksiatan tersebut. Sesungguhnya Allah menghimpun orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Neraka Jahanam secara keseluruhannya. Di dalamnya mereka mendapatkan seburuk-buruk siksaan.
الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا {١٤١} 141. Orang-orang munafik itu adalah mereka yang menanti peristiwa yang akan menimpa kalian, wahai orang-orang yang beriman, berupa fitnah, dan peperangan. Jika Allah mengaruniakan kemenangan kepada kalian dan menolong kalian atas musuh-musuh, sehingga berhasil pula mendapatkan harta rampasan perang, mereka berkata kepada kalian, "Bukankah kami turut berperang membantu kalian?" Namun jika orang-orang yang ingkar kepada din ini mendapatkan kemenangan dan harta rampasan perang maka mereka berkata kepada orang-orang kafir ini, "Bukankah kami ikut membantu kalian dengan apa yang telah kami berikan kepada kalian serta kami jaga kalian dari orang-orang mukmin?" Allah akan memberikan keputusan antara kalian dengan mereka pada Hari Kiamat. Dan Allah tidak akan menjadikan jalan kemenangan bagi kaum kafir atas para hamba-Nya yang shalih. Kesudahan (kemenangan akhir) itu ada di tangan orang-orang yang bertakwa, di dunia dan akhirat.
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا {١٤٢} 142. Sesungguhnya cara yang dilakukan oleh orang-orang munafik itu adalah menipu Allah dengan menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran, diiringi keya-kinan bahwa yang demikian itu tidak diketahui oleh Allah. Keadaan yang sebenarnya, justru Allah membalas tipuan mereka dan akan mengganjar mereka sesuai dengan amal perbuatan yang mereka lakukan. Jika orang-orang munafik itu berdiri hendak mengerjakan shalat maka mereka berdiri sambil bermalas-malasan. Dalam mengerjakan shalat, mereka bermaksud riya' dan sum'ah. Mereka tidaklah menyebut Allah (berdzikir) kecuali hanya sedikit saja.
مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا {١٤٣} 143. Sesungguhnya keadaan orang-orang mu-nafik itu adalah bimbang, bingung, dan goncang. Mereka tidak stabil dalam satu keadaan. Mereka tidak bersama orang-orang beriman dan juga tidak bersama orang-orang kafir. Barang siapa yang dipalingkan oleh Allah dari keimanan kepada-Nya dan dari berpegang teguh kepada petunjuk-Nya maka engkau tidak akan mendapati jalan baginya menuju hidayah dan keyakinan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا {١٤٤} 144. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, janganlah kalian mengambil wali (memberikan wala') kepada orang-orang yang mengingkari din Allah dan meninggalkan perwalian (loyalitas) dan kecintaan kepada orang-orang beriman. Apakah dengan mencintai musuh-musuh itu kalian ingin agar Allah memiliki alasan yang nyata untuk tidak membenarkan (mengakui) keimanan kalian?!
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا {١٤٥} 145. Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada di tempat paling bawah di neraka pada Hari Kiamat. Dan engkau, wahai Rasul, sekali-kali tidak akan menemukan seorang penolong pun yang akan melindungi mereka dari buruknya tempat kembali ini.
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا {١٤٦} 146. Kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, memperbaiki kerusakan yang pernah mereka lakukan secara lahir maupun batin, memberikan loyalitas kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, berpegang teguh dengan din Allah serta memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, mereka itu adalah bersama orang-orang yang beriman, di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan memberikan pahala yang agung kepada orang-orang yang beriman.
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا {١٤٧} 147. Allah tidak akan menimpakan adzab kepada kalian jika kalian beramal shalih serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya. Hanya saja Allah menimpakan adzab kepada para hamba disebabkan oleh dosa-dosa mereka. Allah Maha Mensyukuri terhadap para hamba-Nya atas ketaatan mereka kepada-Nya serta Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.
لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا {١٤٨} 148. Allah tidak suka jika seseorang itu mengucapkan kata-kata buruk secara terang-terangan. Hanya saja memang dibolehkan bagi orang dizhalimi untuk menyebut keburukan pihak yang berbuat zhalim terhadap dirinya, demi menjelaskan tindak kezhalimannya. Allah Maha Mendengar terhadap apa yang kalian ungkapkan secara terang-terangan, serta Maha Mengetahui apa yang kalian sembunyikan dari-Nya.
إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا {١٤٩} 149. Allah menyarankan agar kita suka memberi maaf. Allah memberikan arahan bahwa seorang mukmin itu bisa menampakkan kebaikan atau menyembunyikannya. Demikian halnya berkenaan dengan tindakan jahat yang dilakukan oleh seseorang terhadapnya; boleh ditampakkan olehnya dalam kondisi menuntut keadilan dari orang yang berbuat jahat, atau boleh juga memberi maaf. Sedangkan memberi maaf itu lebih utama. Di antara sifat Allah adalah pemaaf terhadap para hamba, sekalipun Dia Mahakuasa menghukum mereka.
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا {١٥٠} 150. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap Allah dan para rasul-Nya, baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani, dan mereka ingin memisahkan antara Allah dan para rasul-Nya dengan cara beriman kepada Allah namun mendustakan para rasul yang telah Dia utus kepada makhluk-Nya. Atau mengakui kebenaran sebagian rasul dan beranggapan bahwa sebagian dari para rasul itu melakukan kedustaan atas nama Rabb. Dan mereka ingin membuat jalan menuju kesesatan yang mereka ada-adakan sendiri serta bid'ah yang mereka buat.
أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا {١٥١} 151. Mereka itu adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya; yang tidak bisa diragukan lagi. Kami sediakan bagi orang-orang kafir itu adzab yang merendahkan dan menghinakan mereka.
وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَٰئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا {١٥٢} 152. Orang-orang yang membenarkan keesaan (wandaniah) Allah dan mengakui kenabian seluruh rasul-Nya, serta tidak membeda-bedakan antara seorang pun dari mereka, sedangkan mereka itu mengamalkan syariat Allah maka mereka itu akan Allah berikan balasan pahala atas keimanan mereka kepada-Nya dan atas keimanan kepada para rasul-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِ ۚ فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَىٰ أَكْبَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ۚ ثُمَّ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَفَوْنَا عَنْ ذَٰلِكَ ۚ وَآتَيْنَا مُوسَىٰ سُلْطَانًا مُبِينًا {١٥٣} 153. Wahai Rasul, orang-orang Yahudi bertanya kepadamu tentang suatu mukjizat seperti mukjizat Nabi Musa, yang bisa memberikan bukti akan kebenaran dirimu. Yaitu agar engkau menurunkan kepada mereka lembaran-lembaran kitab yang tertulis langsung dari Allah, seperti halnya kedatangan Nabi Musa dengan membawa panel-panel bertulis (alwah) dari sisi Allah. Janganlah engkau heran, wahai Rasul, karena para pendahulu mereka juga pernah meminta kepada Nabi Musayang lebih besar dari hal itu. Mereka meminta kepada Nabi Musa agar memperlihatkan Allah kepada mereka secara nyata. Mereka pun akhirnya disambar petir disebabkan kezhaliman mereka terhadap diri sendiri dengan meminta sesuatu yang bukan menjadi haknya. Setelah Allah menghidupkan mereka kembali pasca mereka disambar petir dan mereka menyaksikan ayat-ayat nyata yang ada di tangan Nabi Musa, yang secara pasti menafikan kemusyrikan, mereka lantas menyembah anak sapi selain menyembah Allah. Kami maafkan mereka dari peribadahan mereka kepada anak sapi disebabkan taubat yang mereka lakukan. Kami berikan kepada Nabi Musa hujah yang agung, yang menguatkan kebenaran kenabian beliau.
وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيثَاقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُلْنَا لَهُمْ لَا تَعْدُوا فِي السَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا {١٥٤} 154. Kami angkat bukit Thur di atas kepala mereka ketika mereka tidak berpegang terhadap piagam (janji yang dikuatkan) itu, yang telah diberikan kepada mereka untuk mengamalkan hukum-hukum Taurat. Kami perintahkan mereka untuk masuk ke pintu Baitul Maqdis dalam keadaan bersujud. Namun mereka ternyata memasukinya dengan membelakanginya. Kami mengingatkan mereka agar tidak melakukan pelanggaran pada hari Sabtu dengan melakukan perburuan, namun ternyata mereka melanggarnya dan melakukan perburuan (menjala). Kami ambil dari mereka piagam yang kuat, namun mereka menggugurkannya.
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا {١٥٥} 155. Kami laknat mereka disebabkan mereka melanggar janji. Juga karena kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebenaran para rasul-Nya. Karena mereka membunuh para nabi secara zhalim dan penuh permusuhan. Serta karena perkataan mereka, "Hati kami tertutup, sehingga tidak bisa memahami apa yang engkau katakan."Bahkan sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka disebabkan oleh kekufuran yang mereka lakukan. Mereka tidaklah beriman kecuali dengan keimanan yang sangat sedikit; yang tidak berguna bagi mereka.
وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَىٰ مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا {١٥٦} 156. Demikian juga Kami laknat mereka disebabkan oleh kekufuran dan tuduhan dusta mereka terhadap Maryam dengan mengatakan bahwa ia telah berbuat zina, padahal sesungguhnya ia terbebas darinya.
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا {١٥٧} 157. Disebabkan karena perkataan mereka dalam bentuk perolokan, "Orang yang mengaku punya kedudukan ini (Isa), berhasil kami bunuh." Sebenarnya mereka tidaklah membunuh Nabi Isa dan tidak juga menyalibnya. Yang benar adalah bahwa mereka menyalib seseorang yang mirip dengan Isa, yang mereka yakini sebagai Isa. Barang siapa dari kalangan kaum Yahudi yang mengaku telah membunuhnya, dan barang siapa dari kalangan Nasrani yang telah menyerahkan kepada mereka, sungguh mereka semua itu berada dalam keraguan dan kebimbangan. Tiada ilmu pada diri mereka, selain hanya mengikuti prasangka belaka. Mereka itu tidaklah membunuhnya dengan penuh keyakinan (bahwa yang mereka bunuh adalah Nabi Isa), akan tetapi mereka itu sebenarnya ragu mengenai hal itu.
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا {١٥٨} 158. Namun yang sebenarnya adalah bahwa Allah telah mengangkat Nabi Isa kepada-Nya, dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan hidup. Allah menyucikan beliau dari ulah tangan orang-orang kafir. Allah Mahaperkasa dalam urusan kerajaan-Nya dan Mahabijaksana berkenaan dengan pengaturan dan ketentuan-Nya.
وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا {١٥٩} 159. Sesungguhnya tidak ada seorang pun dari kalangan ahlukitab, setelah turunnya Nabi Isa pada akhir zaman, kecuali pasti beriman kepadanya sebelum beliau wafat. Dan pada Hari Kiamat nanti, Nabi Isa menjadi saksi atas pendustaan orang yang mendustakan beliau dan pembenaran orang yang membenarkan beliau.
فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا {١٦٠} 160. Disebabkan oleh kezhaliman berupa dosa-dosa besar yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi maka Allah mengharamkan atas mereka makanan-makanan baik yang dahulunya halal bagi mereka. Demikian juga disebabkan karena mereka menghalangi diri mereka dan orang lain dari din Allah yang lurus.
وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا {١٦١} 161. Juga disebabkan karena mereka memakan riba yang mereka itu dilarang memakannya, serta karena mereka menghalalkan tindakan memakan barang orang lain yang tidak menjadi haknya. Kami sediakan bagi orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dari kalangan kaum Yahudi itu, adzab yang menyakitan di akhirat.
لَٰكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ ۚ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أُولَٰئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا {١٦٢} 162. Akan tetapi, orang-orang yang mendalam ilmunya tentang hukum-hukum Allah di antara kaum Yahudi dan juga orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu beriman kepada apa yang telah Allah turunkan kepadamu, wahai Rasul, yaitu Al-Qur'an, dan juga beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada para rasul sebelummu, seperti Taurat dan Injil, menunaikan shalat pada waktunya, mengeluarkan zakat harta mereka, beriman kepada Allah serta beriman kepada Hari Kebang-kitan dan Pembalasan; maka mereka itu akan diberi pahala yang agung oleh Allah, yaitu surga.
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا {١٦٣} 163. Kami telah mengutusmu, wahai Rasul, dengan menyampaikan risalah sebagaimana telah juga Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya. Kami wahyukan juga kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, Asbath —yaitu nabi-nabi yang mereka itu berada dalam kabilah-kabilah Bani Israil yang dua belas, yang merupakan anak turun Ya'qub—, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Kami berikan Zabur kepada Daud, yaitu berupa kitab dan lembaran bertulis (shuhuf).
وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا {١٦٤} 164. Kami juga telah mengutus rasul-rasul yang telah Kami kisahkan kepada kalian di dalam Al-Qur'an sebelum turunnya ayat ini, serta rasul-rasul lainnya yang tidak Kami kisahkan kepadamu oleh karena suatu hikmah yang Kami inginkan. Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung, sebagai bentuk penghormatan kepada beliau dengan sifat ini (kalimullah). Dalam ayat ini terdapat penetapan sifat kalam (bicara) bagi Allah sebagaimana yang sesuai dengan keagungan-Nya. Bahwa Allah berbicara kepada nabi-Nya, yaitu Musa secara hakiki dan tanpa perantara.
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا {١٦٥} 165. Kami utus para rasul itu kepada makhluk-Ku dengan membawa kabar gembira akan pahala dari-Ku serta dengan memberikan peringatan akan hukuman-Ku. Yang demikian itu agar tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk mengelak setelah diutusnya para rasul itu. Allah Mahaperkasa dalam urusan kerajaan-Nya serta Mahabijaksana berkenaan dengan urusan pengaturan-Nya.
لَٰكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ ۖ أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا {١٦٦} 166. Jika orang-orang Yahudi dan selain mereka itu kufur kepadamu, wahai Rasul maka Allah memberikan kesaksian terhadapmu bahwa engkau adalah utusan-Nya yang telah Dia turunkan kepadanya Al-Qur'anul Azhim. Allah menurunkannya berdasarkan ilmu-Nya. Demikian juga para malaikat turut memberikan kesaksian akan kebenaran wahyu yang disampaikan kepadamu. Padahal sebenarnya kesaksian dari Allah saja sudah cukup.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا ضَلَالًا بَعِيدًا {١٦٧} 167. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari kenabianmu serta menghalangi manusia dari memeluk Islam, sungguh mereka itu telah jauh dari jalan kebenaran dengan sejauh-jauhnya.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا {١٦٨} 168. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya serta berbuat kezhaliman dalam bentuk terus berada di atas kekufuran, Allah tidak akan sudi mem-berikan ampunan atas dosa-dosa mereka serta tidak akan menunjukkan mereka ke jalan yang menyelamatkan me-reka.
إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا {١٦٩} 169. (Tidak ada jalan baginya) kecuali jalan menuju Jahanam. Sedangkan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.Yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.Tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi-Nya.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا {١٧٠} 170. Wahai sekalian manusia, sungguh telah datang kepada kalian utusan Kami, yaitu Muhammad dengan membawa Islam, din kebenaran yang berasal dari Rabb kalian. Maka dari itu, percayalah kepadanya dan ikutilah ia. Beriman kepadanya itu lebih baik bagi kalian. Jika kalian masih terus-menerus berada di atas kekufuran maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan kalian dan juga tidak membutuhkan keimanan kalian. Sebab, Dia adalah pemilik segala yang ada di langit dan di bumi. Allah Maha Mengetahui segala ucapan dan perkataan kalian serta Mahabijaksana berkenaan dengan pensyariatan dan perintah-Nya. Jika langit dan bumi telah tunduk kepada Allah baik secara suka atau terpaksa, sebagaimana ketundukan seluruh kerajaan-Nya maka lebih layak lagi bagi kalian untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yaitu Muhammad serta beriman dengan Al-Qur'an yang telah Dia turunkan kepadanya. Juga agar kalian dengan penuh kesadaran tunduk kepadanya, sehingga seluruh alam tunduk kepada Allah secara suka atau terpaksa. Ayat ini menjadi dalil akan keumuman risalah Nabi Allah dan Rasul-Nya, yaitu Muhammad
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا {١٧١} 171. Wahai orang-orang yang diberi kitab Injil, janganlah kalian melampaui batas dari keyakinan yang benar dalam din kalian. Janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan adanya teman wanita atau anak bagi-Nya. Se-sungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah yang diutus oleh-Nya dengan membawa kebenaran. Allah telah menciptakannya dengan kalimat yang Dia kirim melalui malaikat Jibril kepada Maryam, yaitu kalimat "jadilah", lalu jadilah ia. la merupakan tiupan dari Allah yang ditiupkan oleh Jibril berdasarkan perintah Rabb-Nya. Oleh karena itu, percayalah bahwa Allah itu Satu dan berserahlah kepada-Nya. Percayalah kepada para utusan-Nya berkenaan dengan segala ajaran yang mereka bawa dari sisi Allah serta amalkanlah. Janganlah kalian menjadikan Nabi isa dan bunda beliau sebagai dua sekutu bagi Allah. Berhentilah dari mengucapkan pernyataan ini, tentu akan lebih baik bagi kalian dari apa yang kalian pernah katakan. Sesungguhnya Allah itu adalah ilah Yang Esa. Apa yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Bagaimana mungkin Dia memiliki teman wanita atau anak darinya? Cukuplah Allah sebagai Dzat Yang Dipasrahi untuk mengatur mahkluk-Nya serta mengurus penghidupan mereka. Oleh karena itu, pasrahlah kalian kepada-Nya semata, karena Dialah Dzat yang mencukupi kalian.
لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ ۚ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا {١٧٢} 172. Al-Masih sekali-kali tidak akan enggan untuk menjadi salah seorang hamba Allah, demikian juga para malaikat yang dekat, untuk mengakui ubudiah (penghambaan) kepada Allah Barang siapa yang enggan untuk tunduk dan pasrah, dan ia justru sombong, Allah akan menghimpun mereka semua kepada-Nya pada Hari Kiamat. Allah memutus perkara di antara mereka berdasarkan hukum-Nya yang adil serta memberikan balasan kepada masing-masing sebagaimana mestinya.
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنْكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا {١٧٣} 173. Adapun orang-orang yang membenarkan Allah dengan keyakinan, perkataan dan amalan, lalu istiqamah di atas syariat-Nya, Allah akan memberikan pahala yang sempurna atas amalan-amalan mereka serta memberikan tambahan dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang menolak untuk taat kepada Allah dan menyombongkan diri sehingga tidak mau tunduk kepada-Nya, Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang menyakitkan. Mereka tidak akan mendapatkan wali yang dapat menyelamatkan mereka dari adzab-Nya serta tidak akan mendapatkan seorang penolong pun selain Allah, yang bisa menolong mereka.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا {١٧٤} 174. Wahai sekalian manusia, telah datang kepada kalian bukti kebenaran dari Rabb kalian, yaitu Rasul Kami, Muhammad dengan berbagai bukti nyata dan hujah yang tidak bisa dibantah, utamanya adalah Al-Qur'anul Karim, yang menjadi bukti kebenaran kenabian beliau dan risalah Allah yang terakhir. Dan Kami telah menurunkan kepada kalian Al-Qur'an sebagai petunjuk dan cahaya yang nyata.
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا {١٧٥} 175. Adapun orang-orang yang membenarkan Allah, dengan keyakinan, perkataan dan amalan, serta berpegang dengan cahaya yang diturunkan kepada mereka, Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga sebagai rahmat dan karunia dari-Nya. Allah menunjukkan mereka untuk menempuh jalan lurus yang mengantarkan kepada taman-taman surga.
يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ {١٧٦} 176. Mereka bertanya kepadamu, wahai Rasul, tentang hukum warisan kalalah (yaitu orang yang meninggal dalam keadaan tidak memiliki anak maupun ayah). Jawablah: Allah menjelaskan kepada kalian tentang hukum kalalah ini, yaitu: Jika seseorang itu meninggal, sedangkan ia tidak memiliki anak maupun ayah, sementara ia memiliki saudara perempuan seayah dan seibu, atau seayah saja maka saudara perempuannya tersebut mendapatkan separuh dari harta warisan yang ditinggalkannya. Sedangkan saudara laki-laki kandungnya (seayah seibu) atau seayah saja, mewarisi seluruh harta perempuan tersebut jika ia meninggal tanpa meninggalkan anak laki-laki atau ayah. Jika pewaris kalalah itu adalah dua saudara perempuan maka keduanya mendapatkan dua pertiga dari warisan yang ditinggalkan. Jika para pewaris itu terdiri dari saudara-saudara laki-laki dan perempuan, bagian laki-laki adalah dua kali bagian saudara perempuannya. Allah menjelaskan kepada kalian pembagian warisan dan hukum kalalah ini agar kalian tidak tersesat dari kebenaran berkenaan dengan urusan warisan. Allah Maha Mengetahui kesudahan segala urusan, termasuk yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi para hamba-Nya.
Al-Qur'an Today @2006